Tuesday, January 11, 2011
Kritik Al-Attas Terhadap Pandangan Alam (Worldview) Barat
Syed Muhammad Naquib Al-Attas adalah seorang intelektual Muslim yang ulung pada abad ini karana telah berhasil membongkar kepincangan filsafat Barat dan menanggapinya secara kritis dan cerdas. Melalui karya-karyanya tentang metafisika Islam, beliau juga telah berhasil membawa pemikiran Islam ke tahap yang lebih tinggi. Salah satu sumbangan besar beliau dapat dilihat melalui sebuah karya yang bertajuk Islam and Secularism yang diterbitkan pada tahun 1978. Dalam buku ini beliau telah mengkaji dan membedah inti peradaban Barat dan pandangan alamnya, menunjukkan kepincangan-kepincangan yang ada padanya, kekeliruan dan bencana yang diakibatkannya, dan menyediakan bagi umat Islam solusi dalam menghadapi krisis keilmuan ini. Keagungan karya al-Attas diakui bukan saja oleh para pengikut dan muridnya tetapi oleh banyak cendekiawan Muslim dan beberapa pemikir Barat, seperti terlihat dalam Cranlana Programme,[2] dalam usaha mereka untuk memahami sumbangan pemikir-pemikir dunia dalam menciptakan masyarakat dan peradaban yang unggul.
Dunia hari ini dipenuhi dengan kekacauan (chaos) dalam hampir semua bidang kehidupan. Kekacauan dapat kita lihat dalam sistem ekonomi dunia hari ini yang telah menjamin kesejahteraan kelompok kecil manusia tetapi memberi kesengsaraan kepada mayoritas penduduk dunia; sistem politik kontemporer juga seringkali gagal melahirkan pemimpin-pemimpin yang amanah dan membela nasib rakyat kecil; universitas-universitas seringkali gagal melahirkan manusia-manusia yang beradab dan maju dalam arti kata yang sebenarnya; sains dan teknologi yang gagal menjadikan dunia lebih layak dihuni oleh manusia. Segala kekacauan yang timbul hari ini menurut al-Attas bermula dari krisis keilmuan yang datang dari Barat. Bagi al-Attas krisis keilmuan adalah tantangan terbesar yang dihadapi oleh umat manusia di zaman ini, karena bangunan ilmu (epistemic construct) ini yang akan menentukan bagaimana sistem politik, sistem ekonomi, sistem sosial dan institusi pendidikan dibangun. Korpus ilmu yang hari ini banyak diwarnai oleh peradaban Barat telah dirusakkan oleh paham-paham sekular dan liberal. Maka terjadilah kerusakan pada ilmu (the corruption of knowledge). Paham sekular-liberal ini memiliki framework pemikiran dan konsepsi yang keliru tentang ilmu, manusia, agama, wahyu, Tuhan dan kata kunci lainnya yang mendefinisikan pandangan alam sesuatu peradaban. Kekeliruan dalam epistemologi inilah yang menyebabkan Barat gagal mengenali hakikat sebenarnya akan realitas kehidupan dan meletakkan sesuatu pada tempatnya yang sepatutnya.
Sebelum dapat melihat kepincangan pandangan alam Barat, al-Attas terlebih dahulu mendalami filsafat dan pemikiran Barat seperti rasionalisme, empirisisme, positivisme dan pragmatisme. Beliau menyerang sikap Barat yang terlalu mengagungkan ilmu sains sebagai satu-satunya cabang ilmu yang dapat memberikan kepastian dan keyakinan tentang realitas.[3] Oleh karena itu menurut al-Attas Barat telah ”membatasi pandangan alam pada alam yang dialami oleh indera jasmani serta dibentuk oleh akal rasional ”.[4] Dengan menggunakan kaidah rasionalisme dan empirisisme, bagi mereka hakikat hanyalah alam empirik. Dari kajian yang mendalam terhadap worldview Barat ini al-Attas menyimpulkan bahawa ilmu itu tidak netral. Karena baginya ilmu “bukan hanya suatu sifat yang dimiliki akal manusia, bukan juga hanya hasil pengolahan sifat itu tanpa dipengaruhi oleh nilai-nilai yang mempertimbangkan kesahihan pendapatnya”.[5] Yang kita anggap ilmu tidak berdiri sendiri sebagai fakta dan informasi tanpa cara pandang dan worldview tertentu. Seseorang mestilah memiliki kerangka pemikiran dan worldview tertentu sebelum ia dapat mencerna fakta-fakta dan informasi tersebut. Pandangan al-Attas ini tidak diterima oleh beberapa cendekiawan Muslim sendiri, seperti Fazlur Rahman[6] dan Pervez Hoodboy[7], yang terpengaruh dengan worldview Barat dan mengatakan bahawa ilmu itu value-free (bebas nilai). Mereka melihat bahawa ilmu-ilmu yang dihasilkan oleh Barat tidak mengandung nilai-nilai yang bertentangan dengan pandangan alam Islam. Pandangan al-Attas bahawa ilmu itu sarat nilai (value laden) sejajar dengan banyak ilmuwan lain seperti Thomas S. Kuhn dalam bukunya The Structure of Scientific Revolution[8] dan Edward Said dalam bukunya Orientalism dan Culture and Imperialism.[9] Tinjauan lebih mendalam akan mendapati bahwa pandangan seperti ini hanya dimiliki oleh beberapa cendekiawan yang mandiri dan berani melihat peradaban Barat secara kritis.
Al-Attas meneliti secara mendalam sumber kekeliruan dalam pemikiran Barat. Beliau menjelaskan bahawa latar belakang filsafat Barat banyak mennggambarkan pandangan alam Barat. Beliau melihat bahwa pandangan alam Barat dimasuki berbagai unsur dari filsafat Yunani dan Romawi, ajaran-ajaran Yahudi dan Kristen, unsur-unsur kepercayaan orang Latin, German, Celtic dan Nordik telah menimbulkan kekeliruan dan bukan suatu paduan yang baik. Bahkan menurutnya Islam juga telah menyumbang ke arah kematangan pemikiran Barat melalui semangat rasionalisme dan saintifik. Namun campuran berbagai sumber tersebut, walaupun ada di antaranya yang baik, karena tidak diletakkan di tempatnya masing-masing telah menggiring peradaban Barat ke arah dualisme dan tragedi.[10] Al-Attas menolak tesis Harvey Cox bahwa sekularisasi mempunyai akarnya dalam Bible.[11] Beliau menegaskan bahawa akar sekularisasi bukan pada Bible tetapi pada pentafsiran Bible oleh manusia Barat.[12] Maka yang berlaku sebenarnya adalah bukan peng-kristenan masyarakat Barat tetapi pembaratan agama Kristen oleh masyarakat Barat.[13]
Kerusakan pada ilmu bermula daripada dualisme. Menurut al-Attas dualisme menjadi karakter worldview dan sistem nilai peradaban Barat. Dualisme berlaku apabila dua perkara dilihat bertentangan, terpisah dan tidak dapat disatukan secara harmoni. Bibit-bibit pemisahan berlaku dalam agama Kristian apabila dipisahkan antara sacred (suci) dan profane (tidak suci). Kemudian dalam sekularisme berlaku pemisahan antara spirit (ruh) dan matter (benda).[14] Malah menurut al-Attas pandangan alam sekular telah menjadikan alam empiris (benda) ini qadim.[15] Seterusnya berlaku pemisahan antara wahyu (revelation) dan akal (reason) dan antara tradisi dengan modernitas. Dari pemisahan ini maka manusia sekular yang telah mengagungkan ilmu sains dan membataskan hakikat pada alam empiris, akan cenderung memilih akal daripada wahyu, benda daripada ruh, dunia daripada akhirat, modernitas daripada tradisi. Maka dengan tepat al-Attas menyimpulkan bahwa peradaban Barat telah berpegang sepenuhnya kepada akal rasional manusia dalam menguraikan segala persoalan.[16] Dan ini menurut beliau adalah satu bentuk deification of human being (pendewaan manusia). Dan tentunya manusia yang diagungkan di sini adalah manusia sekular dan manusia sekular yang tulen semestinya adalah manusia Barat.[17] Proses ini mengukuhkan lagi tesis beliau bahwa telah berlaku westernisasi ilmu, maka untuk itu diperlukan dewesternisasi ilmu.
Dibandingkan epistemologi Islam yang menekankan keyakinan dan kepastian. Epistemologi Barat mengangkat keraguan (doubt, shakk) menjadi kaidah epistemologi yang melaluinya segala ilmu dan kebenaran diperoleh.[18] Oleh karenanya seringkali epistemologi seperti ini berakhir kepada kekeliruan dan skeptisisme. Tidak heranlah jika agnotisme, ateisme, utilitarianisme dan evolusionisme mulai bermunculan setelah rasionalisme Barat diperkenalkan oleh Descartes pada abad ke-17.[19] Akibat daripada epistemologi yang keliru ini maka selalu terjadi perombakan dalam epistemologi Barat. Modernisme yang menegaskan objektivisme kini dirombak oleh pascamodenisme yang mengagungkan relativisme dan subjektivisme. Bertrand Russell menegaskan pandangan falsafah Barat terhadap ilmu dengan mengatakan bahawa “All knowledge is more or less uncertain and more or less vague”.[20] Malah Russell berkesimpulan bahwa ilmu adalah produk keraguan.[21] Kerana keraguan menjadi asas pencarian ilmu ini maka manusia dalam falsafah Barat tidak akan dapat mencapai kepastian. Kerangka epistemologi yang sekular ini menyebabkan sesuatu yang dianggap ilmu dalam kerangka pemikiran Barat tidak semestinya ilmu dalam arti kata yang sebenar tetapi boleh dikatakan sebagai pseudo knowledge (ilmu yang palsu). Ketidakpastian ini berlaku disebabkan oleh peminggiran sumber ilmu yang utama, yaitu wahyu, dan karena itu manusia tidak lagi dapat mengetahui perkara-perkara yang pasti. Dan ketidakpastian menjadi satu realitas dalam ilmu Barat. Sebaliknya sesuatu yang dianggap pasti dan tetap kini menjadi tidak pasti dan berubah-rubah. Seharusnya relativisme dan subjektivisme juga dilihat sebagai sesuatu yang tidak pasti. Namun ternyata pomodernis mengecualikan relativisme dan subjektivisme daripada ketidakpastian yang menjadi ciri filsafat Barat.
Ketidakpastian ini juga yang menggiring pemikiran Barat kepada konsep tragedi. Tragedi adalah konsep ketidaksampaian (unattainment) dalam segala usaha manusia. Tragedi menjadi ciri peradaban Barat dan merupakan realiti yang mesti diterima dalam kehidupan manusia sehingga banyak film dan teater berakhir dengan tragedi dan kesudahan yang dramatik. Manusia dianggap makhluk yang malang. Malang kerana harus menanggung dosa warisan (original sin) dan harus bergantung dengan keupayaan sendiri, akal rasional, untuk mencapai kebenaran. Sedangkan pada hakikatnya ia adalah makhluk yang paling beruntung kerana diberikan karunia yang tidak terhingga oleh Allah SWT. Dan Allah telah memberikannya banyak fakultas termasuk akal yang berfungsi untuk mengenal Allah dan mengenali dirinya. Sikap negatif manusia sekular terhadap kehidupan ini kemudian diimbangi dengan sikap keterlaluan dalam mengapresiasi kehidupan duniawi. Manusia dihakimi hanya hidup sekali maka selama hidup ini manusia harus mencari kepuasan dan kesenangan sebanyak mungkin. Sedangkan dalam pandangan Islam kehidupan dunia ini adalah ujian, jembatan, dan tempat berbekal. Di dunia manusia terikat dengan hutang kewujudan (the debt of existence) dan bukan original sin. Setelah mati manusia akan dihidupkan. Ia akan bertanggungjawab atas apa yang dilakukan di dunia dan menjalani kehidupan abadi sesuai dengan takdirnya.
Masalah yang paling besar dalam ilmu kontemporer adalah sikap Barat terhadap agama yang dicirikan oleh ketidakpercayaan (disenchantment towards religion). Hal ini berkaitan erat dengan sikap sarjana Barat yang menganggap bahawa Tuhan dan agama hanyalah ilusi yang dihasilkan oleh manusia. Tuhan tentunya bukan sama sekali khayalan, mitos, yang berubah seiring perubahan zaman. Bagi al-Attas Tuhan adalah hakikat semata-mata.[22] Di sinilah berlakunya pertentangan antara pandangan alam sekular dengan pandangan alam yang berasaskan kepada tanzil (wahyu). Pertentangan ini bermuara pada perbedaan “agama dan filsafat, dan sains sekular ialah cara dan kaidah kita dalam memahami arti sumber dan kaidah ilmu”.[23] Akibat dari peminggiran agama dalam kehidupuan maka realitas keruhanian dan kebenaran pada zaman modern dicirikan dengan ketidakpastian. Hal ini berlaku seiring dengan kecenderungan masyarakat modern yang kehilangan minat terhadap agama (Kristen) dan bertumpu kepada ilmu-ilmu sains. Sikap terhadap agama inilah yang menyebabkan masyarakat Barat, menurut al-Attas, mendewakan manusia dan memanusiakan Tuhan (man is deified and Deity humanized).[24] Selanjutnya akibat daripada ketidakpercayaan ini maka segala konsepsi terhadap alam realitas menjadi sekular dan materialistik. Maka konsep pembangunan (development), kemajuan (progress) dan perubahan (change) akhirnya tidak terlepas dari kerangka sekular dan materialistik tersebut.
Semua kekeliruan dalam pandangan alam Barat dapat disimpulkan oleh al-Attas kepada lima perkara yang juga mendefinisikan peradaban Barat: pertama, kepercayaan mutlak pada akal (rasional) sebagai panduan dalam kehidupan; kedua, pandangan dualistik terhadap realitas dan kebenaran; ketiga, penerimaan aspek ke-disinikini-an sehingga memancarkan pandangan alam yang sekular; keempat, penerimaan doktrin humanisme; kelima, menjadikan drama dan tragedi sebagai kenyataan dan sangat berpengaruh kepada hakikat manusia dan kejadian:
Reliance upon the powers of human reason alone to guide man through life; adherence to the validity of the dualistic vision of reality and truth; affirmation of the reality of the evanescent-aspect of existence projecting a secular worldview; espousal of the doctrine of humanism; emulation of the allegedly universal reality of drama and tragedy in the spiritual, or transcendental, or inner life of man, making drama and tragedy real and dominant elements in human nature and existence—these elements altogether taken as a whole, are, in my opinion, what constitute the substance, the spirit, the character and personality of Western culture and civilization.[25]
Sekularisasi dan Desekularisasi
Sekularisasi, menurut Harvey Cox, adalah ”pembebasan manusia dari bimbingan agama dan metafisika, menukar tumpuan manusia dari alam akhirat ke alam dunia”.[26] Pembebasan ini katanya untuk kepentingan manusia, karena pemikir-pemikir Barat umumnya melihat bahwa agama adalah penghalang pada kemajuan manusia.
Sejak kemunculan sekularisme, bidang yang pertama mendapat akibatnya adalah bidang politik. Karena tujuan sekularisme juga adalah supaya agama dan gereja tidak campurtangan dalam urusan keduniaan. Oleh itu urusan keduniaan diserahkan sepenuhnya kepada penguasa politik. Sedangkan agama dibatasi pada ruanglingkup ritual dan spiritual.
Kesilapan besar yang dilakukan oleh sekularisme antara lain seperti disebutkan oleh Profesor Syed Muhammad Naquib al-Attas adalah pembebasan alam dari unsur-unsur keagamaan (disenchanment of nature), beliau mengatakan:
By the ‘disenchanment of nature…[the Western philosopher-scientist] mean…the freeing of nature from its religious overtones; and this involves the dispelling of animistic spirits and gods and magic from the natural world, separating it from God and distinguishing man from it, so that man may no longer regard nature as a divine entity, which thus allows him to act freely upon nature, to make use of it according to his needs and plans.[27]
Kritik al-Attas terhadap sekularisme cukup jelas. Beliau mengecam pemisahan antara materi dan spiritual yang akhirnya mengangkat manusia sebagai penguasa mutlak di alam ini:
”…effected a final dualism between matter and spirit in a way which left nature open to the scrutiny and service of secular science, and which set the stage for man being left only with the world on his hands.”[28]
Oleh itu, akar permasalahan politik kontemporer sebenarnya terletak pada kerancuan dalam pandangan alam (worldview) sekular. Pandangan alam sekular telah membuang segala yang bersifat transenden dan mengalihkan perhatian manusia kepada segala yang bersifat keduniaan dan kekinian. Dengan demikian ciri utama filsafat-filsafat Barat modern dan postmodern adalah immanentisme. Filsuf-filsuf Barat telah meminggirkan agama, petunjuk Tuhan dan nilai-nilai moral. Apa yang disebut sebagai tradisi ini telah digantikan dengan rasionalisme sekular, kemajuan material (material progress) dan kebebasan individu.
Setelah pemisahan agama dan negara dilakukan maka apa yang berlaku tiadanya panduan dan bimbingan terhadap peranan manusia dalam kehidupan. Kebenaran sesuatu ditentukan sepenuhnya oleh akal fikiran manusia yang subjektif. Empirisisme, positivisme dan saintisme dicipta untuk menjadi panduan dalam menentukan sepenuhnya benar salah, baik buruk sesuatu perkara. Akan tetapi keangkuhan modernisme Barat ini lalu digugat oleh postmodernisme yang lahir dari rahim modernisme sendiri. Maka apa yang terjadi sebenarnya setelah melepaskan diri dari agama, manusia sekular berada dalam putaran ganas relativisme dan nihilisme hasil ciptaan manusia sekular sendiri.
Mengenai kesesatan sekularisme, al-Attas mengatakan bahawa dengan membuang unsur-unsur transenden, sekularisme telah mendewakan manusia:
The reduction of man of his transcendent nature as spirit emphasizing his humanity and physical being, his secular knowledge and power and freedom, which led to his deification, and so to his reliance upon his own rational efforts of inquiry into his origins and final destiny, and upon his own knowledge thus acquired which he now sets up as the criterion for judging the truth or falsehood of his own assertions.”[29]
Dalam mengritik sekularisme, Prof. Wan Mohd Nor menekankan bahwa bukan kemajuan material dan pembangunan yang ditentang tetapi kecenderungan sekularisme menjadikan realitas dan kebenaran ditentukan sepenuhnya oleh akal rasional dan empiris dengan demikian telah menolak bimbingan agama yang benar: ”what we critical of is the removal of spiritual meanings from human consciousness and activities, and from nature; the reduction of all truth and reality to what is only empirically and rationally verifiable and unaided by valid religious guidance.” Dalam hal ini Yusuf al-Qaradhawi menegaskan: “pengikisan agama dari politik berarti mengikisnya nilai-nilai murni, penolakan terhadap kejahatan, membuang unsur-unsur kebaikan dan ketakwaan, dan membiarkan masyarakat dikawal oleh unsur-unsur kejahatan.”[30]
Pembebasan alam kejadian (nature) dari unsur-unsur keagamaan oleh sekularisme diikuti dengan desakralisasi politik (desacralization of politics) dengan memisahkan agama dari politik. Sekularisme melakukan desakralisasi politik dengan memutuskan kekuasaan dunia dari kekuasaan transenden. Hal ini dilakukan atas alasan bahwa pemerintahan agama akan menghalangi perubahan dan kemajuan. Yang menjadi pencetus kepada pemisahan ini adalah kesalahan gereja dalam menghakimi bahwa mereka berkata atas nama Tuhan. Sehingga apa saja yang diutarakan oleh gereja adalah dari Tuhan padahal ini adalah dakwaan palsu. Justru itu yang seharusnya diruntuhkan adalah dakwaan berkomunikasi dengan Tuhan dan bukan peranan agama secara keseluruhannya.
Pemikiran sekular telah memisahkan antara wahyu dengan akal, agama dengan sains. Sekularisme berasumsi bahawa dua perkara yang dilihat bertentangan ini tidak dapat bersatu, keduanya dilihat secara dikotomis. Dengan dualisme ini sekularisme telah menempatkan manusia dan Tuhan sebagai entitas yang berlawanan dan terpisah. Inilah yang dimaksudkan dengan desakralisasi politik. Maka sejak zaman Renaissance telah terjadi pemisahan antara negara dan agama. Yang menjadi masalah pada hari ini adalah tanpa bimbingan Tuhan, manusia mengatur alam kehidupan mengikut hawa nafsu dan kepentingan sesaat (pragmatisme). Maka dalam berpolitik kepentingan peribadi dan kepentingan masing-masing golongan akan menjadi keutamaan berbanding kepentingan bersama atau kepentingan rakyat. Baik dan buruk tidak lagi bersifat universal tetapi relatif dan subjektif bergantung sepenuhnya kepada keinginan manusia sekular. Maka manusia sekular, karena hanya mempertimbangkan hal-hal keduniaan yang bersifat sementara dan dekat di mata kasar, sebenarnya bersandarkan kepada pemikiran yang dangkal, yang tidak mencerminkan kebijaksanaan tetapi ’kebijaksinian’.
Semua premis yang dikemukakan di atas membawa al-Attas kepada kesimpulan bahawa dewesternisasi dan desekularisasi terhadap ilmu-ilmu kontemporer adalah satu kemestian. Atas dasar inilah al-Attas membangun gagasan Islamisasi ilmu yang seringkali dikaitkan dengan ide dewesternisasi dan desekularisasi. Al-Attas telah membuktikan bahawa dualisme yang menjadi ciri khas pandangan alam Barat menyebabkan kekeliruan dalam memahami realitas dan kebenaran. Ia berawal dari kegagalan memahami kedua perkara tersebut dengan tepat dan keliru dalam meletakkan kedua perkara tersebut pada tempat yang sewajarnya. Pendewaan terhadap akal rasional (rasionalisme dan empirisisme) terjadi seiring dengan peminggiran yang sistematik terhadap agama dan metafisika. Al-Attas juga membongkar kelemahan konsepsi Barat tentang banyak perkara yang dicirikan dengan kepincangan dan ketidaksempurnaan. Konsepsi Barat tentang manusia, ilmu, pembangunan, kebahagiaan, agama, Tuhan, dan lain-lain adalah mengelirukan dan merusak. Sehingga siapa saja yang menerimanya akan ikut mengalami bencana dan malapetaka yang besar, yang akan sedikit demi sedikit meruntuhkan peradaban manusia.
NB:
Diadaptasi dari bahasa Malaysia ke dalam bahasa Indonesia oleh PIMPIN. Kekeliruan penerjemahan sepenuhnya tanggung-jawab penerjemah (M. Ishaq)
Rujukan:
Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. Islam and Secularism, diterbitkan oleh ABIM pertama kali pada 1978. Kuala Lumpur: ISTAC, 1993.
________. Prolegomena to the Metaphysics of Islam: an Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam. Kuala Lumpur: ISTAC, 1995.
________. “The Worldview of Islam: An Outline” dalam Islam and The Challenge of Modernity: Historical and Contemporary Contexts, Sharifah Shifa al-Attas (ed.). Kuala Lumpur: ISTAC, 1996.
________. The Concept of Education in Islam: A Framework for an Islamic Philosophy of Education, Kuala Lumpur: ABIM, 1980.
________. Risalah untuk Kaum Muslimin, Kuala Lumpur: ISTAC, 2001.
________. Tinjauan Ringkas Peri Ilmu dan Pandangan Alam. Pulau Pinang: Penerbit Universiti Sains Malaysia, 2007.
Cox, Harvey. The Secular City. New York: Collier Book, 1965.
Kuhn, Thomas S. The Structure of Scientific Revolution. Chicago dan London: The University of Chicago Press, 1996.
Lyotard, Jean-Francois. The Postmodern Condition: A Report on Knowledge. Minneapolis: University of Minnesota Press, 1984.
Al-Qaradawi, Yusuf. al-Din wa al-Siyasah. Kaherah: Dar al-Shuruq, 2007.
Rahman, Fazlur. “Islamization of Knowledge: A Response” dalam The American Journal of Islamic Social Science (AJISS), vol.5, No. 1, 1988. Pp.3-11.
Russell, Russell. The Problems of Philosophy. Oxford: Oxford University Press, 1959.
Said, Edward. Orientalism. New York: Vintage Books, 1979.
Smart, Barry. Postmodernity: Key Ideas. London: Routledge, 1993.
Wan Mohd Nor Wan Daud, “An Islamic Philosophy of Education: From Conceptualization to Realization”. Kertas kerja yang dibentangkan pada persidangan: Islamic Education for Transformation, dianjurkan oleh Islamic Unity Convention di Capetown, Afrika Selatan pada 27 June 1997.
________. The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib al-Attas: An Exposition of the Original Concept of Islamization. Kuala Lumpur: ISTAC, 1998.
________. Falsafah dan Amalan Pendidikan Islam Syed Muhammad Naquib Al-Attas: Satu Huraian Konsep Asli Islamisasi, Kuala Lumpur: Penerbit Universiti Malaya, 2005.
________. Masyarakat Islam Hadhari: Suatu Tinjauan Epistemologi dan Kependidikan ke Arah Penyatuan Pemikiran Bangsa. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 2006.
9
________________________________________
[1] Dr. Khalif Muammar merupakan felo Penyelidik di Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA), UKM. Beliau boleh dihubungi melalui emel: ketamadunan@yahoo.com atau www.khairaummah.com.
[2] Lihat Jennifer M. Webb (ed.), Powerful Ideas: Perspectives on the Good Society (Melbourne: the Cranlana Programme, 2002). Buku ini menghimpunkan pemikiran dan sumbangan 45 ilmuwan dan pemikir besar sepanjang sejarah manusia bermula daripada Plato sehingga John Rawls. Maklumat ini diberikan oleh Prof. Wan Mohd Nor, penulis ingin merakamkan penghargaan kepada beliau atas banyak tunjuk ajar yang diberikan.
[3] S.M.N. al-Attas, Tinjauan Ringkas Peri Ilmu dan Pandangan Alam (Pulau Pinang: Penerbit USM, 2006), 9. Setelah ini diringkas sebagai Peri Ilmu dan Pandangan Alam.
[4] Ibid., 16.
[5] Ibid., 15. Lihat juga Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib al-Attas: An Exposition of the Original Concept of Islamization (Kuala Lumpur: ISTAC, 1998), 306.
[6] Fazlur Rahman, “Islamization of Knowledge: A Response” dalam The American Journal of Islamic Social Science (AJISS), vol.5, No. 1, 1988, pp. 3-11.
[7] Pervez Hoodboy, Islam and Science: Religious Orthodoxy and the Battle for Rationality (London: Zed Book, 1992). Daripada tulisan terkininya kita dapati beliau menerima sepenuhnya worldview Barat, seperti katanya: “Just as important, the practice of religion must be a matter of choice for the individual, not enforced by the state. This leaves secular humanism, based on common sense and the principles of logic and reason, as our only reasonable choice for governance and progress”. Lihat “Science and the Islamic world—The quest for rapprochement”, di http://ptonline.aip.org/journals/doc/PHTOAD-ft/vol_60/iss_8/49_1.shtml
[8] Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolution (Chicago dan London: The University of Chicago Press, 1996), 4-5.
[9] Edward Said, Orientalism (New York: Vintage Books, 1979), 204.
[10] Al-Attas, Islam and Secularism, 134.
[11] Harvey Cox, The Secular City (New York: Collier Book, 1965), 15.
[12] “Secularization has its roots not in biblical faith, but in the interpretation of biblical faith by Western man”. Lihat Al-Attas, Islam and Secularism, 20.
[13] Ibid., 20, 22.
[14] Ibid., 33.
[15] Al-Attas, Peri Ilmu dan Pandangan Alam, 3. Qadim bermakna tidak bermula dan tidak berakhir.
[16] Al-Attas, Islam and Secularism, 137.
[17] Ibid., 25.
[18] Al-Attas, Peri Ilmu dan Pandangan Alam,5.
[19] Al-Attas, Islam and Secularism, 22.
[20] Encyclopedia Brittanica, The Theory of Knowledge.
[21] Bertrand Russell, The Problems of Philosophy (Oxford: Oxford University Press, 1959), 156.
[22] Al-Attas, Peri Ilmu dan Pandangan Alam, 2
[23] Ibid., 2.
[24] Al-Attas, Islam and Secularism, 136.
[25] Ibid.,137.
[26] Harvey Cox, The Secular City, 15.
[27] Al-Attas, Islam and Secularism, 18.
[28] Ibid., 33.
[29] Ibid., 38.
[30] Yusuf al-Qaradawi, al-Din wa al-Siyasah (Kaherah: Dar al-Shuruq, 2007), 82.
Tags: WORLDVIEW
Posted 28 Jan 2010 by adminpimpin in Artike
Tulisan Dr Khalif Muammar mengenai Syed Muhammad Naquib Al-Attas terhadap pandangan alam (worldview) sekularisme...
Konsep Ilmu dan Metode Pendidikan dalam Pemikiran Al Ghazzali-Kitab Ihya ‘Ulumuddin
Disamping ketokohannya dalam berbagai bidang keilmuan seperti fikih, tasawuf, dan filsafat, Al Ghazzali adalah tokoh besar pendidikan Islam pada zamannya dengan pemikiran-pemikirannya masih mewarnai pemikiran umat Islam kontemporer. Namun memang ketokohannya dalam dunia pendidikan tampak tidak begitu dikenal sebagaimana ketokohannya di bidang-bidang yang lain. Padahal jika dilihat perjalanan hidupnya, al-Ghazzali banyak sekali bersentuhan dengan dunia pendidikan. Dalam usianya yang belum mencapai tiga puluh tahun al-Ghazzali telah memegang kedudukan tertinggi di universitas/madrasah Nizhamiyyah, Baghdad, sebuah center of excellent di dunia pendidikan Islam pada zaman itu. Di dalam persinggahannya di berbagai kota seperti Thus, Naisabur, Baghdad, al Ghazzali menjalani kehidupan sebagai seorang guru. Di akhir hayatnya, al Ghazzali mendirikan sekolah dengan dirinya sendiri yang langsung menjadi guru di kota kelahirannya Thus hingga akhir hayatnya.
Sebuah analisi menarik dilakukan oleh Majid Irsan al-Kilani yang menyebutkan dalam salah satu karyanya bahwa al-Ghazzali telah melakukan sebuah perubahan revolusioner di dalam dunia pendidikan masa itu. Di dalam berbagai karyanya, al-Ghazzali membongkar penyakit-penyakit pemikiran di dalam masyarakat pada masa itu yang diindikasikan dengan banyaknya pertikaian antar mazhab, maraknya perdebatan seputar hal-hal yang sepele dan melupakan hal yang pokok, kecenderungan ilmuwan/ulama untuk dekat dengan pusat kekuasaan yang mengindikasikan rusaknya tujuan mencari ilmu. Analisis al-Kilani menyimpulkan bahwa kemenangan umat dalam perang Salib dengan tokoh sentralnya Shalahuddin al-Ayyubi bukanlah kemenangan yang datang tiba-tiba bersama kedatangan Shalahuddin. Menurutnya kedatangan Shalahuddin dengan pasukannya yang gagah berani merupakan sebuah proses panjang yang dimulai dari mengobati berbagai penyakit pemikiran di dalam masyarakat. Dalam hal ini, menurut al Kilani, al Ghazzali bersama-sama dengan Abdul Qadir al-Jailani merupakan tokoh kunci pemberantasan berbagai kerusakan pemikiran masyarakat yang kemudian melahirkan sebuah masyarakat baru yang di bawah kepemimpinan Shalahuddin al Ayyubi yang berhasil secara gemilang merebut kembali Palestina dari tangan penguasa Kristen pada tahun 1187.
Pada tulisan berikut akan dibahas tentang konsep ilmu menurut al-Ghazzali yang mencakup tentang penggolongan ilmu, pandangannya tentang ilmu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah, serta konsep pendidikannya yang tersirat dari ulasannya tentang adab murid dan guru. Sebagai pembuka pembahasan konsep ilmu dan pendidikan al Ghazzali ini, kita akan memulainya dengan menampilkan biografi al-Ghazzali berikut ini.
2. Biografi Imam Al-Ghazzali
Imam al-Ghazzali lahir di di desa Taberan distrik Thus, Persia pada 450 H (1058 M). Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad. Gelar al-Ghazzali sendiri diduga diambil dari usaha leluhurnya di bidang pertenunan (ghazzal). Ayahnya sendiri adalah seorang penenun yang shalih dan sederhana serta suka mengunjungi para ulama untuk menuntut ilmu. Ia senantiasa memohon kepada Allah agar dianugerahi anak yang berilmu.
Ketika kecil al-Ghazzali bersama adiknya, Ahmad, belajar di sebuah madrasah swasta. Beberapa waktu kemudian ia melanjutkan pendidikannya di Zarzan dan belajar di bawah bimbingan seorang ulama besar Imam Abu Nasr Ismail. Sejak kecil al-Ghazzali telah memperlihatkan minatnya yang besar terhadap ilmu. Ia senantiasa mencatat pelajaran dari gurunya. Pernah suatu ketika ia dirampok dan barang-barangnya termasuk catatan pelajarannya dibawa lari oleh perampok itu. Dengan keberaniannya ia mendatangi perampok itu dan memintanya mengembalikan catatan-catatan tersebut. Melihat permohonan al-Ghazzali yang penuh harap, sang perampok lalu mengembalikan catatan-catatan tersebut.
Al-Ghazzali kemudian melanjutkan sekolahnya di Madrasah Nizhamiyah di Nishapur. Sekolah ini merupakan sekolah yang terpandang di masa itu dan dipimpin oleh ulama terkenal bernama Imam Haramain. Ketika gurunya wafat, al-Ghazzali yang waktu itu berusia 28 tahun pergi meninggalkan Nishapur menuju Baghdad. Di Baghdad ia ditawari menjadi pengajar dan pada 484 H ia diangkat menjadi rektor Madrasah Nizhamiyah. Pengangkatan al-Ghazzali sebagai pemimpin lembaga pendidikan termasyhur pada masa itu menunjukkan pengakuan banyak orang akan ketinggian ilmu al-Ghazzali.
Pada tahun 488 H Al-Ghazzali pergi menunaikan ibadah haji yang kemudian dilanjutkannya mengujungi Syams dan Baitul Maqdis kemudian ke Damaskus. Pada masa itulah ia mengarang kitab Ihya ‘Ulumuddin. Pada masa itu hidup dengan amat sederhana, berpakaian kasar, mengurangi makan dan minum, banyak mengunjungi masjid dan desa, serta melatih diri dengan banyak beribadah kepada Allah SWT.
Kemudian ia kembali ke Baghdad dan mengajarkan kitab Ihya ‘Ulumuddin. Lalu ia kembali ke Perguruan Nizhamiyah, Nisabur. Akhirnya, ia kembali ke kampung halamannya Thus dengan membangun sebuah madrasah di sana untuk ulama-ulama fiqih dan pondok untuk para sufi. Di sini ia menghabiskan sisa hidupnya untuk memberi pelajaran kepada para penuntut ilmu hingga wafat pada 14 Jumadil Akhir 505 H (1111 M).
Al-Ghazzali meninggalkan banyak karya dari berbagai bidang ilmu seperti teologi, fiqih, logika, filsafat, spiritual, dan tafsir. Di antara karya-karyanya itu, kitab Ihya’ ‘Ulumuddin adalah karyanya yang paling monumental yang saat ini masih banyak dikaji oleh umat Islam di seluruh dunia.
3. Pandangan Al-Ghazzali Mengenai Kerosakan Ilmu
Al Ghazzali memberi nama kitabnya yang paling masyhur itu dengan nama Ihya ‘Ulumuddin yang berarti menghidupkan ilmu-ilmu agama. Nama ini menyiratkan kegelisahan al-Ghazzali yang menilai ilmu agama pada masa itu telah dianggap mati atau sekurangnya sekarat. Yang dimaksud dengan mati di sini adalah bahwa ilmu agama di sini telah kehilangan makna hakikinya. Meskipun Al-Ghazzali menyaksikan masih banyak terdapat ulama atau para ahli ilmu agama di zamannya, namun mereka tidak lagi meneladani para sahabat dan salafus shalih yang memiliki sifat zuhud (tidak condong kepada kehidupan duniawi) dan berakhlak mulia.
Al-Ghazzali menjelaskan bahwa hilang atau matinya ilmu agama bermula dari merosotnya mutu pemimpin muslim, khususnya setelah masa Khulafa’ur Rasyidin. Ketika Rasulullah SAW wafat, kepemimpinan umat Islam diambil alih oleh para sahabat yang mereka semua adalah orang-orang yang bukan saja menonjol sifat kepemimpinannya tetapi juga memahami hukum-hukum Allah secara baik. Dengan demikian, ketika hendak memutuskan suatu permasalahan, mereka dapat mengambil keputusan sendiri (ijtihad) yang sesuai dengan syariat yang telah ditetapkan Allah SWT dan Rasul-Nya, kecuali hanya untuk beberapa permasalahan tertentu yang membutuhkan musyawarah.
Pada masa itu kita katakan bahwa kepemimpinan negara dan kepemimpinan agama menyatu dalam diri seorang khalifah. Kepemimpinan ini merupakan kepemimpinan yang paling dekat dengan model kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dimana kepemimpinan agama dan politik menyatu dalam diri beliau. Hal inilah yang menjadikan seorang ilmuwan Barat, Michael Hart, menempatkan Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia.
Keadaan yang berbeda muncul setelah Khulafa’ Rasyidin wafat. Kemudian secara bertahap kepemimpinan umat Islam diganti oleh khalifah yang tidak memiliki pengetahuan mendalam terhadap hukum-hukum Allah, kecuali khalifah tertentu seperti Umar bin Abdul Aziz. Para khalifah ini tidak mampu memberi fatwa secara mandiri dalam menyikapi persoalan umat sehingga mereka membutuhkan bantuan para ahli fiqih agar keputusan mereka tidak keluar dari syariat Islam. Mereka akhirnya sering meminta pendapat dari ulama-ulama yang masih bersih agamanya dari tujuan-tujuan duniawi. Bahkan, khalifah bukan saja meminta pendapat, tetapi juga menawarkan mereka jabatan di dalam pemerintahan, misalnya sebagai hakim pengadilan. Namun, ulama-ulama ini seringkali menolak jabatan tersebut bahkan lebih memilih dihukum daripada menerima jabatan. Misalnya, Imam Abu Hanifah yang berulang kali menolak tawaran jabatan di pemerintahan dan lebih memilih dipenjara dan dihukum cambuk daripada menerimanya.
Masyarakat kemudian melihat keadaan ini sebagai peluang memperoleh jabatan pemberi fatwa, apalagi seiring dengan makin berkembangnya wilayah Islam kebutuhan negara terhadap ahli fatwa semakin banyak. Sejak itu banyak orang mulai mengkaji ilmu fiqih, namun tujuannya tidak lagi murni untuk mencari keridhaan Allah melainkan untuk bisa mengisi jabatan-jabatan pemberi fatwa di pemerintahan. Ketika kecenderungan ini menyebar kemudian mendominasi para pencari ilmu maka makin banyaklah bermunculan orang-orang yang disebutnya sebagai ulama su’ atau ulama dunia. Sebaliknya al-Ghazzali merasakan semakin langkanya ulama-ulama akhirat, yaitu orang-orang yang menuntut ilmu dengan tujuan ikhlas mencari ridha Allah SWT. Keadaan inilah yang dimaksud oleh al-Ghazzali dengan matinya ilmu agama.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa bahwa pangkal dari rusaknya ilmu menurut Imam al-Ghazzali adalah karena rusaknya tujuan mempelajarinya. Hal ini terkait dengan kebersihan niat dimana orang-orang belakangan yang mencari ilmu untuk tujuan selain dari mencari keridhaan Allah. Inilah yang hendak diperbaiki al-Ghazzali melalui buku Ihya’ ‘Ulumuddin ini sehingga al-Ghazzali memulai bukunya dengan pembahasan mengenai konsep ilmu. Bab ilmu ini terdapat pada kitab Ibadah yang isinya mencakup tentang keutamaan ilmu termasuk juga keutamaan mempelajari dan mengajarkannya, penggolongan ilmu, masalah perdebatan, adab guru dan murid, bahaya-bahaya ilmu serta kriteria ulama akhirat dan ulama dunia. Penempatan di awal ini menunjukkan bahwa pemahaman terhadap konsep ilmu menjadi kunci penting agar penuntut ilmu terhindar dari penyimpangan tersebut di atas.
4. Konsep Ilmu Menurut al-Ghazzali
4.1. Penggolongan Ilmu
Al-Ghazzali menilai bahwa ilmu harus diletakkan kembali pada tempatnya yang sesuai. Agar bisa meletakkan ilmu pada tempatnya, tentu perlu diketahui dimana letak ilmu itu masing-masing sehingga al-Ghazzali membuat banyak penggolongan ilmu di dalam kitab Ihya’ ‘Ulumuddin. Secara umum ilmu itu dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar, yaitu ilmu syariah dan bukan syariah
1. Ilmu syariah, yaitu ilmu yang berasal dari para Nabi dan Rasul yang tidak diperoleh melalui perantaraan akal (seperti berhitung), atau melalui percobaan (seperti kedokteran), atau juga melalui pendengaran (seperti bahasa). Semua ilmu syariah merupakan ilmu terpuji. Terpuji di sini dapat diartikan sebagai ilmu yang dapat memberikan kebaikan (bermanfaat) baik bagi yang mempelajarinya maupun orang lain. Ilmu syariah dibagi lagi dalam dua kelompok :
o Fardhu ‘ain, yaitu ilmu yang wajib bagi setiap Muslim
o Fardhu kifayah, yaitu ilmu yang wajib bagi sebagian Muslim
2. Ilmu bukan-syariah, yaitu semua ilmu yang diluar pengertian ilmu syariah. Ilmu ini dapat digolongkan lagi menjadi
o Terpuji. Ilmu ini terbagi lagi dalam dua kelompok
yaitu ilmu fardhu kifayah
ilmu utama, yaitu ilmu yang bukan fardhu tetapi bermanfaat untuk melengkapi atau menyempurnakan ilmu-ilmu fardhu. Contohnya, detail-detail ilmu kedokteran atau matematika.
o Mubah, yaitu ilmu yang dalam tinjauan agama tidak membawa kebaikan maupun keburukan bagi yang mempelajarinya atau orang lain. Contohnya ilmu puisi atau ilmu sejarah.[5]
o Tercela, yaitu ilmu yang membawa keburukan bagi yang mempelajarinya atau orang lain. Contohnya adalah ilmu sihir.
Gambar 1. Bagan Konsep Ilmu dalam Pemikiran al-Ghazzali
Pengelompokan di atas bukan hanya sekedar klasifikasi tetapi juga menunjukkan derajat kedudukan ilmu yang satu terhadap ilmu yang lain. Dengan demikian, berdasarkan bagan di atas ilmu fardhu ‘ain lebih tinggi dari fardhu kifayah. Begitu juga ilmu fardhu kifayah dari kelompok ilmu syariah lebih tinggi kedudukannya dibandingkan ilmu fardhu kifayah dari kelompok ilmu bukan-syariah.
4.2. Tentang Ilmu Fardhu ‘Ain dan Fardhu Kifayah[6]
Pada dasarnya ilmu itu sangat luas atau tidak terbatas, sedangkan kemampuan manusia sangat terbatas. Oleh karena itu dengan keterbatasan akal dan usianya, manusia tidak mungkin bisa menguasai semua ilmu yang ada. Sementara itu, di sisi lain Nabi Muhammad SAW memerintahkan umat Islam untuk menuntut ilmu. Dengan demikian berarti perintah Nabi Muhammad SAW untuk menuntut ilmu bukanlah untuk menuntut semua ilmu, melainkan terbatas pada ilmu-ilmu yang penting saja.
Para ulama umumnya sepakat bahwa ada ilmu yang fardhu bagi setiap muslim (fardhu ‘ain) dan ada yang fardhu bagi sebagian muslim (fardhu kifayah). Disebut fardhu karena jika ilmu ini tidak diketahui maka individu muslim (di dalam fardhu ‘ain) atau segolongan muslim (di dalam fardhu kifayah) terancam mendapat dosa dan murka Allah. Inilah yang dimaksud dengan ilmu yang penting dipelajari itu. Namun yang menjadi masalah adalah bagaimana menentukan ilmu mana yang termasuk fardhu ‘ain dan ilmu mana yang termasuk fardhu kifayah. Al-Ghazzali menyimak perdebatan masyarakat mengenai hal ini di masa itu dimana umumnya pandangan mereka sangat terkait dengan kecenderungan masing-masing orang. Misalnya, bagi para ahli fiqih, ilmu fiqihlah yang merupakan ilmu fardhu ‘ain, sedangkan ahli tafsir Quran dan Hadits menyebut ilmu-ilmu al-Qur’an dan Hadits yang merupakan fardhu ‘ain. Demikian juga para ahli tasawuf akan menyebutkan ilmu tasawuflah yang fardhu ‘ain. Demikian seterusnya.
Menurut al-Ghazzali ilmu fardhu ‘ain sangat tergantung dengan keadaan hidup seseorang sehingga ia tidak sepakat dengan pengertian yang kaku seperti di atas. Kewajiban menuntut ilmu ini berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan perubahan yang terjadi pada orang tersebut. Hal ini didasarkan bahwa keadaan yang berbeda akan menuntut kewajiban yang berbeda pula. Demikian juga hal ini ditegaskan al-Qur’an dalam surat al-Baqarah (2) : 286
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Ayat di atas menunjukkan kewajiban yang Allah bebankan kepada setiap orang tidaklah sama. Itu berarti kewajiban orang kaya tidak sama dengan kewajiban bagi orang miskin, kewajiban penguasa tidak sama dengan kewajiban rakyat jelata, kewajiban orang dewasa tidak sama dengan anak-anak, kewajiban orang sakit tidak sama dengan kewajiban orang sehat, dan kewajiban wanita tidak sama dengan kewajiban laki-laki. Demikian seterusnya.
Kemudian, seperti telah disampaikan di atas bahwa kehidupan manusia itu berkembang maka tuntutan kewajibannya pun juga mengalami perubahan. Dengan demikian ilmu fardhu ‘ain bersifat dinamis dan berubah menurut perkembangan kehidupan masing-masing individu. Misalnya, seorang yang miskin tidak wajib mengetahui ilmu tentang zakat, namun ketika ia dianugerahi kekayaan maka ilmu tersebut menjadi wajib baginya. Ilmu yang wajib diketahui itu hanya sebatas dengan kewajiban yang harus ia penuhi. Artinya, ia tidak wajib mengetahui detail ilmu zakat, kecuali dengan kadar yang ia butuhkan yang sesuai dengan keadaannya pada saat itu.
Al-Ghazzali membagi lagi ilmu fardhu ‘ain ini dalam dua kelompok, yaitu ilmu mukasyafah dan mu’amalah. Ilmu mukasyafah adalah ilmu yang wajib diketahui saja dan ilmu ini hanya dicapai ketika hati telah bersih dari berbagai sifat tercela. Sedangkan ilmu mu‘amalah adalah ilmu yang wajib diketahui dan diamalkan. Al Ghazzali hanya membahas ilmu mu‘amalah tapi tidak membahas ilmu mukasyafah karena ilmu ini sangat sulit dipahami dan diuraikan. Namun demikian, menurut al-Ghazzali ilmu mukasyafah dapat dicapai dengan mengamalkan ilmu mu’amalah.
Ilmu mu‘amalah mencakup tiga hal, yaitu yang berkait dengan keyakinan (i’tiqad), perintah, dan larangan. Dalam hal keyakinan, misalnya seseorang yang sampai pada usia baligh, wajib mengetahui ilmu tentang Allah, sekurang-kurangnya ia mempelajari dan mengetahui dua kalimat syahadah. Ia wajib meyakini hal ini tanpa keraguan sedikit pun. Bila ini telah ditunaikan, berarti ia telah melaksanakan kewajibannya kepada Tuhan.
Keyakinan kepada dua kalimah syahadah ini menimbulkan kewajiban baru yaitu melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan Allah sehingga muncul cabang baru ilmu mu’amalah yaitu pengetahuan tentang perintah dan larangan. Namun, pengetahuan mengenai perintah dan larangan tidak cukup hanya diketahui saja tetapi juga harus diamalkan dalam kehidupan. Dalam pengertian ini Al-Ghazzali menegaskan keterkaitan antara ilmu dengan amal dan kesempurnaan ilmu terwujud dalam kesempurnaan amal.
Al-Ghazzali menjelaskan bahwa setelah mempelajari dan mengetahui dua kalimat syahadat muncul baginya kewajiban untuk menegakkan shalat, oleh karena ia wajib mengetahui ilmu tentang shalat termasuk juga pengetahuan tentang bersuci (thaharah) karena untuk bisa shalat seseorang diwajibkan bersuci lebih dulu. Demikian juga ketika ia mulai memiliki harta maka ia wajib mengetahui ilmu tentang zakat. Mendekati Ramadhan ia sudah harus membekali dirinya dengan pengetahuan tentang ibadah shaum. Ketika akan datang musim haji sedangkan ia sudah memenuhi semua syarat untuk bisa berangkat haji maka ia diwajibkan untuk mempelajari ilmu tentang ibadah haji sebelum berangkat menunaikannya. Semua ini adalah ilmu mu’amalah yang terkait dengan perintah.
Begitu juga dalam ilmu mu‘amalah yang berkaitan dengan larangan. Misalnya, seseorang yang telah meyakini dua kalimah syahadah harus mengenal larangan-larangan agama. Misalnya, ketika ia hendak makan maka ia seharusnya mengetahui mana makanan halal dan mana yang haram dan ia harus menghindarkan dirinya dari yang haram. Begitu juga ketika ia berbicara ia juga harus mengetahui bahwa ia harus meninggalkan perkataan yang dusta. Ketika ia hendak berdagang maka ia harus mengetahui bahwa ia tidak boleh mengurangi timbangan dan bisa membedakan mana yang jual beli dan mana riba dan ia wajib meninggalkan segala bentuk kecurangan dan riba.
Termasuk juga dalam ilmu fardhu ‘ain menurut al-Ghazzali adalah mengetahui hal-hal membinasakan yaitu keadaan-keadaan hati yang tercela seperti sombong, ujub, riya’, dengki, dan lain-lain. Seorang manusia tidak akan luput dari cobaan keadaan hati seperti ini dan menghilangkan sifat-sifat ini merupakan suatu fardhu’ain. Jika ia jatuh ke dalam keadaan ini maka ia akan mendapat dosa, oleh karena itu ia harus mengetahui hal-hal yang terkait dengan sifat-sifat tercela ini. Agar ia selamat dari sifat-sifat ini maka menurut al-Ghazzali setiap orang hendaknya mengenal batas-batas, sebab-sebab, tanda-tanda, dan cara pengobatan penyakit hati ini.
5. Konsep Pendidikan Al Ghazzali
Al-Ghazzali menilai bahwa ilmu itu harus mengantarkan orang yang mempelajarinya mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Inilah yang disebut dengan ilmu bermanfaat. Sekiranya keduanya tidak bisa diraih, paling tidak kebahagiaan akhirat bisa diperoleh karena inilah kebahagiaan yang hakiki. Sekiranya ilmu itu memberi kebahagiaan bagi kehidupan dunia tapi tidak mengantarkan kebahagiaan akhirat maka ilmu ini bukan termasuk ilmu yang di maksud al-Ghazzali karena tidak ada artinya memperoleh kebahagiaan dunia tetapi memperoleh kesengsaraan di akhirat. Penekanan al-Ghazzali terhadap ilmu jalan akhirat ini tidak berarti al-Ghazzali mengabaikan atau meremehkan ilmu-ilmu yang dibutuhkan untuk kemaslahatan dunia atau ilmu-ilmu duniawi. Selama ilmu-ilmu dunia ini satu arah dengan tujuan mencapai kebahagiaan akhirat, maka ilmu ini merupakan ilmu yang bermanfaat. Al Ghazzali berkata :
Agama tidak teratur kecuali dengan teraturnya dunia, karena sesungguhnya dunia itu adalah ladang akhirat. Dunia adalah alat yang menyampaikan kepada Allah ‘Azza wa Jalla bagi orang yang mengambilnya (dunia) sebagai alat dan persinggahan, bukan bagi orang yang menjadikannya sebagai tempat menetap dan tanah air.
Hal-hal utama dalam pendidikan dapat kita bagi dalam tiga elemen utama, yaitu yang mendidik (guru), yang dididik (murid), dan cara mendidik (metode). Oleh karena itu kunci keberhasilan proses pendidikan sangat tergantung pada kesiapan guru mengajar, kesiapan murid menerima pelajaran, dan penggunaan metode yang tepat. Di dalam Ihya’ ‘Ulumuddin al-Ghazzali memang tidak secara langsung menyinggung tentang ketiga hal ini. Namun demikian, uraiannya tentang adab murid dan guru, cukup menggambarkan beberapa pemikirannya tentang konsep pendidikan yang merefleksikan pandangannya terhadap ketiga elemen penting tersebut. Berikut ini adalah beberapa konsep pendidikan al-Ghazzali dan analisis singkat relevansinya dalam sistem pendidikan saat ini.
5.1. Kriteria Akhlak dalam Belajar
Al-Ghazzali menyebutkan adab murid yang pertama adalah bahwa seorang murid harus membersihkan jiwanya dari akhlak tercela sebelum belajar. Ia menekankan hal ini karena berpandangan bahwa menuntut ilmu adalah suatu bentuk ibadah, yaitu ibadah hati (bathin), sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
Menuntut Ilmu itu fardhu bagi setiap muslim (HR. Ibnu Majah)
Pada dasarnya setiap hal yang diwajibkan Allah kepada manusia merupakan ibadah, sedangkan menuntut ilmu diwajibkan (fardhu) bagi setiap muslim, maka dari itu menuntut ilmu adalah ibadah. Al-Ghazzali mengibaratkan menuntut ilmu dengan shalat. Jika shalat, yang merupakan ibadah lahir, harus didahului dengan membersihkan badan (wudhu), maka demikian pula halnya ibadah batin ini (menuntut ilmu) juga perlu dimulai dengan membersihkan jiwa dari berbagai bentuk kekotoran. Karena ilmu tidak akan masuk ke dalam jiwa yang kotor sebagaimana tidak diterimanya shalat jika dilakukan dalam keadaan tidak suci yang menunjukkan bahwa untuk belajar perlu ada persiapan kejiwaan.
Di sini juga al-Ghazzali mengisyaratkan suatu bentuk seleksi yang bukan hanya berdasarkan kecerdasan intelektual tetapi seorang murid juga harus memiliki suatu kriteria akhlak sebelum mendapat pelajaran atau diterima sebagai seorang murid. Hal ini berbeda dengan sistem pendidikan yang berlaku saat ini yang menghilangkan aspek akhlak dalam pendidikan dan hanya fokus pada aspek intelektual. Sistem pendidikan seperti ini akan menghasilkan lulusan dengan yang pengetahuan tinggi tapi pengetahuannya tidak membawa kebaikan, malah berpotensi membawa kerusakan di dalam masyarakat.
Mengenai pentingnya kriteria akhlak, al-Attas menyebutkan bahwa dalam seleksi penerimaan mahasiswa di tingkat pendidikan tinggi kriteria akhlak (perilaku) merupakan sesuatu yang harus menjadi pertimbangan. Ini berarti penerimaan mahasiswa di pendidikan tinggi tidak seharusnya berlandaskan pada prestasi-prestasi akademik formal saja.
Regarding entrance the higher level of education, it is not sufficient merely for an individual to allowed to qualify on the basis of good results in formal scientific subjects, as is practised today everywhere. No doubt personal conduct is recognized as important in many education systems, but their notions of personal conductare vague and not really applied effectively in education…
Menurut al-Attas, meskipun sistem seleksi berbasis akhlak (perilaku) itu belum, atau belum banyak, dipraktikkan sampai saat ini, namun sistem seleksi itu bukanlah sesuatu yang sulit atau tidak praktis. Hal ini perlu mendapat perhatian, karena alumni pendidikan tinggi adalah orang-orang yang akan memegang jabatan penting di masyarakat, sehingga baik-buruknya perilaku mereka akan berdampak besar terhadap kemaslahatan masyarakat banyak.
5.2. Meminimalkan Pengaruh Luar yang Dapat Mengganggu Konsentrasi Belajar
Di dalam adab murid kedua, al-Ghazzali menyebutkan bahwa seorang murid hendaknya meminimalkan keterkaitan dirinya dengan kesibukan dunia. Hal ini dinilai akan mengganggu konsentrasi belajar karena bila terlalu banyak mengerjakan urusan lain diluar pelajaran membuat murid menjadi terpecah pikirannya. Dalam suatu analogi, al-Ghazzali menyebutkan bahwa pikiran yang terpecah karena berbagai urusan ibarat sungai-sungai kecil yang terpencar-pencar sebelum sampai ke ladang (tujuan) telah habis dulu di tengah jalan karena telah habis diserap tanah atau menguap ke udara.
Konsep pendidikan yang berusaha membatasi interaksi murid dengan dunia luar seperti ini dapat kita temukan di dalam lembaga pendidikan seperti pesantren atau di dalam lembaga pendidikan modern dikenal sebagai boarding school (sekolah berasrama). Di dalam pendidikan seperti ini murid-murid relatif terisolasi dari keadaan luar yang dapat mengganggu konsentrasinya dalam belajar. Urgensi pendidikan model ini semakin terasa seiring dengan makin tidak amannya murid-murid sekolah dari berbagai gangguan yang ada di sekitarnya. Gangguan ini bisa berupa gangguan keamanan seperti perkelahian, kriminalitas, dan sejenisnya atau juga gangguan terkait aktivitas yang tidak penting namun banyak menyita waktu seperti jalan-jalan di mall, pesta-pesta, nongkrong, main games, dan lain sebagainya. Selain itu juga terdapat gangguan yang mempengaruhi fikiran seperti berbagai informasi yang merusak seperti yang bisa ditemukan di televisi, internet, permainan elektronik, majalah, koran, atau orang-orang disekitarnya. Di antara semua gangguan tersebut, teknologi merupakan gangguan yang harus diwaspadai secara khusus karena tidak semua orang menyadari bahwa perkembangan teknologi terkini, khususnya teknologi informasi dan komunikasi, telah memberikan banyak masalah terhadap kegiatan pendidikan.
5.3. Kepercayaan dan Penghormatan Penuh Kepada Guru
Di dalam adab murid ketiga disebutkan bahwa seorang murid harus mempercayai gurunya layaknya kepercayaan pasien kepada dokter. Seorang murid juga tidak boleh sombong dan ia hendaknya selalu menghormati gurunya. Bagaimanapun juga, kelebihan guru terhadap murid terletak pada banyaknya pengalaman sehingga meskipun bisa jadi ada murid yang sangat pintar, tetapi bagi al-Ghazzali pengalaman guru lebih tinggi derajatnya dari kepintaran murid. Itu sebabnya seorang murid tidak boleh membantah gurunya dan harus mengikuti semua perintah gurunya. Bahkan menurut al-Ghazzali pendapat guru yang salah masih lebih baik daripada pendapat muridnya yang benar.
Di dalam pendidikan modern pendapat seperti ini terkesan tidak demokratis dan dianggap terlalu mendewakan guru. Namun jika ditelaah lebih dalam, hal ini merupakan hal penting dijaga karena untuk menjaga kewibawaan guru. Murid yang mendebat guru dengan cara yang berlebihan (tidak sopan) sehingga mempermalukan guru di hadapan murid-murid yang lain akan menghancurkan semua kepercayaan murid-murid terhadap otoritas guru dalam mengajar. Jika hal ini sampai terjadi proses pengajaran tidak lagi berjalan efektif karena murid-murid sudah kehilangan kepercayaan kepada gurunya. Meskipun seorang murid benar dalam hal ini, tapi ia telah menghancurkan sebuah sistem belajar yang sulit untuk diperbaiki.
Tidaklah tepat mengatakan bahwa dengan kepercayaan dan penghormatan murid terhadap guru inni al-Ghazzali telah mengabaikan kemungkinan guru berbuat semena-mena terhadap murid. Karena disamping murid, menurut al Ghazzali guru juga harus memiliki adab. Jika seorang murid saja dituntut suatu kriteria akhlak yang tinggi sebelum menempuh pendidikan apalagi halnya bagi pengajar. Di dalam adab guru yang pertama al Ghazzali menyebutkan bahwa seorang guru hendaknya menyayangi murid-muridnya seperti orang tua menyayangi anak-anaknya. Sementara di dalam adab kedua, disebutkan pula seorang guru hendaknya merupakan seorang yang meneladani Rasulullah dan tidak meminta upah dalam pengajarannya. Dengan demikian, sikap semena-mena tersebut kecil kemungkinannya muncul dari seorang guru yang memiliki kriteria adab seperti tersebut di atas.
5.4. Proses Pendidikan Dilakukan Dengan Kasih Sayang
Al-Ghazzali menilai kedudukan guru lebih tinggi dari kedudukan orang tua karena seorang gurulah yang memberi manfaat bagi kebahagian akhirat seseorang sedangkan orang tua berjasa bagi kehidupan dunianya. Dengan demikian jika dalam pergaulan dengan seorang anak dengan orang tua dilakukan dengan kasih sayang, maka lebih-lebih lagi jika pergaulan itu dilakukan antara guru dengan murid. Hal ini juga ditegaskan oleh hadits Rasulullah SAW:
Sesungguhnya aku bagimu adalah seperti orang tua kepada anaknya.
(H.R. Abu dawud, An Nasa‘i, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibah dari hadits Abu Hurairah)
Al-Ghazzali memandang Rasulullah adalah guru bagi para sahabat dan beliau mengibaratkan hubungan dirinya dengan para sahabat seperti hubungan antara anak dan orang tua. Oleh karena itu tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa guru adalah juga orang tua bagi murid-muridnya.
Di dalam sistem pembelajaran modern saat ini sifat kasih sayang antara guru dan murid ini terasa semakin berkurang. Salah satu sebabnya adalah karena kecenderungan sekolah yang semakin berorientasi bisnis. Ini membuat hubungan antara guru dan murid lebih terkesan sebagai hubungan antara penjual dan pembeli. Guru hanya merasa berkewajiban memberi ilmu karena untuk itulah ia dibayar. Sedangkan murid merasa bahwa ia memiliki hak untuk mendapat ilmu dari guru karena merasa bahwa ia telah menunaikan kewajibannya membayar uang sekolah.
Jika konsep pendidikannya adalah konsep yang mengedepankan kasih sayang maka proses pendidikan akan bersifat menyeluruh. Menyeluruh di sini adalah dalam pengertian bahwa seorang guru tidak cukup hanya memperhatikan atau bertanggung jawab pada perkembangan belajar muridnya secara intelektual saja, tetapi juga memperhatikan perkembangan akhlak murid tersebut. Seorang murid harus senantiasa diingatkan dan dinasehati bahwa tujuan belajar adalah mendekatkan diri kepada Allah dan bukan untuk mencari kedudukan atau kekayaan dunia. Disamping itu guru berkewajiban mencegah muridnya dari berlaku buruk, dan apabila murid melakukan perbuatan tercela maka seorang guru berkewajiban mengingatkannya. Namun demikian, hal ini sebaiknya dilakukan dengan cara tidak langsung atau terang-terangan, dan juga dengan cara baik atau kasih sayang karena hal ini akan mengurangi potensi pembangkangan dan sakit hati murid akibat teguran tersebut.
5.5. Tahapan-Tahapan dalam Belajar
Di dalam adab murid keenam disebutkan bahwa belajar seharusnya dilakukan secara bertahap. Kebertahapan dapat berarti :
1. Proses pendidikan dimulai dari mempelajari yang paling penting bagi murid. Ilmu yang paling penting adalah ilmu fardhu ‘ain. Ilmu fardhu ‘ain adalah prioritas pertama setiap pelajar. al-Ghazzali mencela orang yang menyibukkan diri dengan ilmu fardhu kifayah tetapi melupakan ilmu fardhu ‘ain.
2. Dimulai dari yang paling mudah karena memulai belajar dari yang paling mudah memberikan semangat dan menghindarkan diri dari rasa putus asa. Oleh karena itu dalam mendidik guru hendaknya menyesuaikan penyampaian pelajaran sesuai dengan kecerdasan atau daya tangkap murid. Al-Ghazzali melarang seorang guru memaksakan suatu pelajaran yang tidak bisa dicapai atau belum siap diterima oleh muridnya.
3. Mengikuti urutan ilmu karena ilmu itu memiliki urutan, dalam pengertian suatu ilmu baru bisa dibahami jika sudah dikuasai ilmu yang lain, atau kita sebut dengan ilmu prasyarat. Dalam kasus-kasus tertentu, untuk memahami suatu ilmu seseorang harus memahami dulu ilmu prasyarat.
4. Seorang murid harus menghindarkan diri mendengar perselisihan atau beda pendapat di antara ahli ilmu. Dalam satu bidang ilmu seorang murid apalagi pemula sebaiknya berpegang pada pendapat gurunya saja. Mengambil suatu ilmu pada beberapa orang pada saat yang bersamaan dapat membingungkan murid sehingga kemajuan belajarnya menjadi terhambat.
6. Simpulan dan Penutup
Dari uraian tersebut di atas dapat kita ambil beberapa hal penting. Pertama, kerusakan ilmu bermula dari rusaknya niat dalam menuntut ilmu. Jika ilmu dipelajari bukan untuk mencari keridhaan Allah maka akan lahir orang-orang yang berakhlak yang rendah serta memiliki kecenderungan berlebihan kepada kehidupan duniawi. Hal ini dapat menimpa siapapun, baik mereka yang mempelajari ilmu syariah maupun bukan-syariah.
Kedua, ilmu harus diletakkan pada tempat yang sesuai. Oleh karena itu setiap orang perlu memahami kedudukan setiap ilmu. Penggolongan ilmu yang dilakukan oleh al-Ghazzali memberikan sebuah panduan derajat masing-masing. Karena ilmu itu sangat luas dan tidak mungkin dipelajari seluruhnya maka setiap orang harus bisa menetapkan ilmu-ilmu mana yang menjadi prioritasnya sesuai dengan keadaannya masing-masing. Konsep ilmu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah semakin memperjelas ilmu mana yang yang didahulukan sehingga seorang muslim telah menunaikan perintah Nabi SAW yang menyebutkan bahwa menuntut ilmu itu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.
Ketiga, bahwa al-Ghazzali telah merumuskan beberapa konsep pendidikan yang sebenarnya masih relevan bahkan dibutuhkan untuk memperbaiki kelemahan pendidikan zaman sekarang. Diantaranya adalah pentingnya kriteria akhlak bagi para pelajar, meminimalkan pengaruh luar yang dapat mengganggu konsentrasi belajar, kepercayaan dan penghormatan kepada guru, sikap kasih sayang dalam proses pendidikan, serta pentingnya tahapan dalam belajar.
7. Daftar Pustaka
1. Al-Qur’anul Karim
2. Al-Ghazzali, Ihya’ ‘Ulumuddin, diterjemahkan oleh Mohd. Zuhri, Muqoffin Muctar, Muqorrobin Misbah, Semarang : Penerbit Asy Syifa, 2003
3. Attas, al-, Syed Muhammad Naquib, Islam and Secularism , Kuala Lumpur : ISTAC, 1993
Catatan Kaki:
[1] Disampaikan dalam diskusi bulanan PIMPIN pada Rabu, 26 Juli 2010
[2] Peneliti PIMPIN
[3] Untuk uraian lebih lengkap tentang peran al Ghazzali dalam mengobati penyakit pemikiran masyarakat pada masa itu, lihat : Majid Irsan al-Kilani, Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib, Bekasi : Penerbit Kalam Aulia Mediatama, 2007.
[4] Michael Hart, 100 Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, Jakarta : PT Dunia Pustaka Jaya, 1978
[5] Dr. Yusuf Qaradhawi memandang bahwa ilmu-ilmu mubah yang dipelajari untuk berkhidmat di jalan Allah dan terkait dengan masalah keumatan termasuk dalam kelompok ilmu fardhu kifayah. Misalnya mempelajari ilmu sejarah yang bertujuan untuk meluruskan penyimpangan sejarah oleh para orientalis agar umat Islam memperoleh informasi yang benar mengenai sejarahnya. Lihat : Yusuf al-Qaradhawi, Menghidupkan Nuansa Rabbaniah dan Ilmiah, Jakarta : Pustaka al-Kautsar, 2000, hal. 158-159
[6] Uraian mengenai konsep fardhu ‘ain dan fardhu kifayah, lihat : al-Ghazzali, Ihya’ ‘Ulumuddin, diterjemahkan oleh Mohd. Zuhri, Muqoffin Muctar, Muqorrobin Misbah, Semarang : Penerbit Asy Syifa, 2003, hal. 46-70
[7] Pembahasan tema ini diambil dari pembahasan kitab ihya’ ‘Ulumuddin bab ke-5 mengenai adab (tata kesopanan) guru dan murid. Lihat : Al-Ghazzali, Ihya’ ‘Ulumuddin, diterjemahkan oleh Mohd. Zuhri, Muqoffin Muctar, Muqorrobin Misbah, Semarang : Penerbit Asy Syifa, 2003, hal 149-181
[8] Al-Ghazzali, Ihya’ ‘Ulumuddin, diterjemahkan oleh Mohd. Zuhri, Muqoffin Muctar, Muqorrobin Misbah, Semarang : Penerbit Asy Syifa, 2003, hal 43
[9] S.M.N. Al-Attas, Islam and Secularism , Kuala Lumpur : ISTAC, 1993, hal. 165
[10] John Naisbitt menguraikan secara panjang lebar bahwa perkembangan teknologi yang pesat seperti saat ini telah memberikan banyak masalah kepada manusia yang seringkali tidak disadari. Meskipun penelitian Naisbitt hanya mengupas persoalan teknologi di Amerika, namun pola-pola yang sama sebenarnya sudah bisa dilihat di negara kita. Lihat : John Naisbitt, et. al. High Tech High Touch : Pencarian Makna di Tengah Perkembangan Pesat Teknologi, Bandung : Penerbit Mizan, 1999
[11] Stephen N. Elliot, dkk. menyebutkan hasil penelitian yang menunjukkan keterkaitan antara tingkat kesulitan materi pelajaran dengan motivasi belajar. Pelajaran yang terlalu sulit cenderung akan melemahkan motivasi belajar siswa. Lihat : Elliot, Stephen N. et al., Educational Psychology : Effective Teaching, Effectife Learning, McGraw Hill, Third Edition, hal 346
Monday, January 10, 2011
POLEMIK KEMUJUDAN TUHAN
Perbahasan antara Jahm bin Safwan dan kaum Sumaniyyah menjadi titik tolak dalam perkembangan Teologi Islam yang sehingga hari ini masih menjadi rujukan utama pada masa kini. Bagi yang mengetahui kisah di sebalik perdebatan ini, sememangnya diketahui Jahm mempunyai pendiriannya yang tersendiri dalam menghurai dan membahaskan tentang kewujudan Tuhan meskipun dikatakan bahawa hujah beliau menolak sifat-sifat Tuhan. Tetapi melalui polemik-polemik tajam yang dikemukakan oleh beliau, lahirnya satu bentuk baru dalam membuktikan kewujudan Tuhan.
Di sini telah dipertontonkan gaya polemik yang berlaku di antara Jahm bin Safwan dengan kaum Sumaniyyah seperti berikut:
Sumaniyyah: kami berjanji jika hujah kami lebih kuat dari hujah kamu, kamu akan memeluk agama kami.
Dan jika sebaliknya, jika hujah kamu lebih kuat , kami akan memeluk agamamu. Mereka berkata: Adakah kamu menyangka bahawa kamu mempercayai Tuhan?
Jahm: Ya.
Sumaniyyah:Adakah kamu melihat mata Tuhan kamu?
Jahm:Tidak
Sumaniyyah:Adakah kamu mendengar percakapanNya?
Jahm:Tidak
Sumaniyyah:Adakah kamu dapat mencium bauanNya?
Jahm: tidak.
Sumaniyyah: Tentu sudah kamu dapat merasaiNya?
Jahm: tidak
Sumaniyyah: Tentu pula kamu dapat menjamahiNya?
Jahm; Tidak
Sumaniyyah: Apakah TUhan membuat kamu mengetahui yang Dia itu Tuhan?
Pabila tiba pada polemik bahagian ini seakan-akan Jahm mengalami kebingungan dengan persoalan-persoalan khas yang ditujukan bagi membuktikan bahawa Tuhan itu sememangnya wujud. Bagaimana harus beliau menjawab pertanyaan tersebut?Lalu muncul satu alternatif yang dikemukakan oleh Jahm bagi mematahkan hujah-hujah yang dikemukakan golongan Sumaniyyah. Beliau lantas telah mencari beberapa soalan-soalan yang sesuai agar ianya mudah diterima akal golongan Sumaniyyah. Hal ini menyebabkan perdebatan mengenai bukti kewujudan Tuhan semakin berlarutan dengan munculnya pula pertanyaan-pertanyaan baru seperti berikut:
Jahm: Adakah kamu menyangka bahawa kamu mempunyai ruh?
Sumaniyyah: Ya
Jahm: Adakah kamu melihat ruh-ruh kamu?
Sumaniyyah:Tidak.
Jahm: Adakah kemu mendengar percakapannya?
Sumaniyyah: Tidak.
Jahm: Adakah kamu dapati ianya mempunyai rasa?
Sumaniyyah: Tidak.
Sumaniyyah: Begitu juga Allah, zat-Nya tidak dapat dilihat, suaraNya tida dapat didengar, bauNya tidak dapat dicium, tidak dapat dilihat dengan mata. DIA berada dimana sahaja.
Melalui polemiK yang berlaku di antara Jahm bin Safwan dengan kaum Sumaniyyah ini telah menunjukkan kepada kita bahawa Jahm mempunyai daya pemikiran yang agak kuat iaitu beliau mampu mematahkan hujah-hujah yang dikemukakan oleh kaum Sumaniyyah dengan menggunakan metodologinya yang dibentuk secara sendirian. Kaum Sumaniyyah pada permulaannya tidak mempercayai kewujudan Tuhan kerana ianya tidak mampu dicapai oleh pancaindera manusia. Melihat kepada situasi ini, dapat dilihat barangkali kaum Sumaniyyah mengamalkan konsep kepercayaan aliran empirisisme yang mana kewujudan Tuhan hanya dapat dibuktikan melalui pancaindera yang sedia ada pada manusia.
Di sini pentingnya hubungan akal dan Wahyu dalam konteks untuk mengenali Tuhan. Perhubungan akal dan wahyu yang wujud sejak sekian lama telah menjadi satu permasalah kerana wujud pihak-pihak yang menyatakan bahawa akal harus diutamakan dalam menyelami pembuktian kewujudan Tuhan. Teras utama pada hakikatnya dalam membuktikan kewujudan Tuhan adalah melalui perhubungan akal dan wahyu. Makanya haruslah bermula perbahasan mengenai kewujudan Tuhan itu melalui pencarian yang sebenar bagi membuktikan kewujudan Tuhan dan pengamalan konsep pembudayaan ilmu yang jelas dan teratur pada realitinya.
RISALAH UNTUK KAUM MUSLIMIN
batinnya bangsa terlalu safi,
kerana peri haknya ruhani,
pernah berkata lisannya murni:
sebagai nabi aku terkandungdalam rahasia di Balai Agung,
Padahal Adam masih terapung
antara air dan tanah lempung.
meskipun rupaku anak Adam,
darjatku asal lebih kiram.
Tatkala Adam belum teringat,
Tatkala Adam belum tersurat,
dan Papantulis belum tercatat,
sudah terpandang oleh kunhi
Zat seri wajahku di dalam mirat.
Sinaran sani cahaya kamalat,
pancaran murni asma dan sifat,
rumusan seni segala makhlukat
yang zahir pada cermin hakiakat---
Dalam diriku semua terlibat.
~Risalah Untuk Kaum Muslimin~
Prof Syed Muhammad Naquib Al-Attas
PENENTUAN KEUTAMAAN
Dr Ibrahim Hamd al-Quayyid menjelaskan "apa yang saudar lakukan apabila jumlah waktu yang ada sedikit sedangkan sasaran yang hendak dicapai banyak? Daam hal ini, saudara tiada pilihan melainkan menentukan keutamaan. Ketahuilah orang yang dianggap berjaya dalam hidup bukanlah orang yang produktif ataupun orang yang menghasilkan pelbagai perkara. Sebenarnya orang yang berjaya adalah orang yang mampu mencapai matlamat yang disasarkan dalam masa yang tersedia baginya."
beliau menerangkan mengenai cara menyusun keutamaan iaitu dengan membahagikan tugas dan tanggungjawab yang kita perlu lakukan setiap hari kepada enam kumpulan:
1)paling penting dan tidak dapat ditunda
perkara yang diwajibkan ke atas kita tidak boleh ditinggalkan, palin penting dan mesti dilakukan dengan segera termasuk dalam kategori ini. contohnya ibadah, kewajipan ataupu n tanggungjawab yang sudah tiba masanya dilaksanankan. Pada masa yang sama apabila kita menangguhkan ataupun terus meninggalkannya, ia dianggap melanggar perintah agama, dapat mendatangkan bahaya ataupun dianggap tidak menepati janji.
2) Mata penting dan tidak dapat ditunda
kategori kedua terdiri daripada perkara yang amat penting dan mesti dilakukan. Tetapi ia tidak perlu dilakukan dengan segera. Pelaksanaannya boleh ditangguhkan. Perkara yang termasuk dalam kumpulan ini adalah: menentukan matlamat hidup, merangka beberapa rancangan masa depan, mengejar kekayaan dalam kerjaya, meningkatkan taraf hidup, bersenam, menjalin silaturrahim, menunaikan ibadah sunat dan sebagainya.
apabila perkara yang termasuk dalam kategori ini tidak dilaksanakan, maka akibatnya adlaah kegagalan dalam merealisasikan matlamat penting dan dalam melaksanakan pelbagai tanggungjawab penting. Ini kerana tugas dan kegiatan kumpulan kedua ini adalah bahagian kejayaan yang ada dalam kehidupan kita. Apabila ia tidak diawasi dan dilaksanakan, kehidupan menjadi tidak bererti dan usaha tidak mendatangkan matlamat.
3) Penting dan tidak dapat ditunda
kategori ketiga terdiri daripada perkara-perkara penting yang tidak dapat ditunda. Ia adalah tugas dan tanggungjawab penting, meskipun tidak sepenting perkara yang tergolong dalam kategori pertama. Misalnya meningkatkan tahap pendidikan anak-anak. Secara umumnya, tugas-tugas dalam kategori ketiga ini adalah tugas-tugas yang diwajibkan ke atas kita kita dan bukan tugas yang kita rancang.
4)Penting tetapi dapat ditunda
kategori keempat terdiri daripada perkara-perkara penting. Tetapi pelaksanaannya dapat ditunda. Contohnya membaca, mengikuti kursus bagi meningkatkan kemahiran, membincangkan cara-cara memperkembangkan perniagaan syarikat dengan pihak atasan dan sebagainya. Walaupun dapat ditunda, perkara yang termasuk dalam kumpulan ini cukup memberi ke atas usaha kita bagi mencapai kejayaan hidup.
5)Tidak penting tetapi tidak dapat ditunda
perkara yang termasuk dalam kategori ini sebahagian besarnya perkara yang membazirkan masa kita dan sering dijumpai dalam kehidupan seharian. Ia terdiri daripada perkara-perkara yang tidak menyumbang ke arah kejayaan dalam mencapai matlamat yang ditetapkan. Walaupun tidak penting, tetapi oleh sebab keadaan pada ketika ia berlaku, maka perkara-perkara ini bisa dilakukan pada masa itu juga. Anehnya perkara-perkara yang tidak penting ini banyak memakan waktu kita.
terdapat banyak perkara yang termasuk dalam kategori ini. Sebagai contoh, sewaktu ingin menziarahi orang yang sakit. Tiba-tiba perhatian kita terarah kepada sebuah rancangan televisyen yang menarik. Akhirnya kita menghabiskan masa menonton rancangan tersebut. contoh lain adalah rumah kita tiba-tiba di datangi tetamu yang mengunjungi pada masa yang tidap tepat dan sekarang kita perlu melayannya.
6) tidak penting dan dapat ditunda
perkara yang termasuk dalam kelompok ini adalah aktiviti yang membuang masa dan tenaga. Misalnya menonton televisyen selama berjam-jam, membaca akhbar dan majalah tanpa henti, banyak main dan banyak tidur serta lain-lain lagi.
Dalam menentuka keutamaan, kita haruslah memilih perkara-perkara paling penting iaitu yang memberi kesan ke atas kehidupan kita. Perkara-perkara ini mesti diutamakan dan dilaksanakan. Kita perlu memberikan perhatian besar kepada perkara-perkara yang sangat penting ini. Hal-hal yang cukup penting pula perlu diberikan perhatian secukupnya. Hal-hal yang tidak penting perlu dijauhi.
KEPERLUAN MEMPENGARUHI KEUTAMAAN
Biasanya dalam menentukan keutamaan seringkali kita dipengaruhi dengan keperluan. Perkara yang menjadi keperluan kita mempengaruhi keutamaan kita. Oleh sebab itu, kita perly mengenal segala macam keperluan manusia.
1) Keperluan utama
Keperluan utma ialah keperluan yang perlu dipenuhi demi mkebaikan dunia dan akhirat. Apabila tidak dipenuhi, maka kepentingan yang berkaitan dengan kebaikan dunia dan akhirat itu terjejas. Contohnya keperluan-keperluan dalam agama yang disebut Al-Kulliyyat Al-khams yakni: melindungi keperluan agama, jiwa, akal dan keturunan serta harta.
2)Keperluan sekunder
Keperluan sekunder adalah keperluan bagi perkara-perkara yang dilakukan oleh manusia untuk mendatangkan keselesaan, sekaligus menghilangkan kesempitan hidup. Biasanya, kesempitan itu jika dibiarkan mampu mengakibatkan kesengsaraan.
3)Keperluan Tertier
Keperluan tertier adalah perkara-perkara yang diperlukan bagi melengkapkan kehidupan seperti akhlak yang mulia, adat dan kebiasaan-kebiasaan yang baik. Misalnya beberapa perkara dalam agama termasuk dalam kategori ini; Syarat cuci badan, pakaian dan tempat, menutup aurat semasa beribadah, larangan menipu dan sebagainya.
Menurut Dr Muhammad Abdul Jawwad, 'Setiap keperluan yang berada di atas adalah lebih utama dan berhak dipenuhi dengan keperluan yang berada di bawahnya. Jadi, jika berlaku dimana keperluan yang lebih rendah mampu mengakibatkan terganggunya keperluan yang lebih tinggi, maka keperluan yang lebih rendah itu wajar dikesampingkan buat sementara waktu. Oleh sebab itu dalam Islam, hukum-hukum yang disyariatkan bagi memelihara keperluan-keperluan utama adalah paling berhak dipelihara dan dilaksanakan. Sesudah itu. barulah keperluan sekunder dapat dipenuhi dan seterusnya. Allahua'lam..
Sunday, January 10, 2010
pengaruh globalisasi
Makalah ni ditulis bagi membincangkan peranan globalisasi sebagai dua proses yang saling berkontradiksi. Sememangnya diketahui dunia pada masa kini berada dalam situasi yang memerlukan setiap negara bergantung antara satu sama lain bagi menjalankan kegiatan ekonomi di peringkat global. Malahan bukan sahaja dalam kegiatan ekonomi bahkan jua dalam politik serta sosial. Melalui situasi dunia pada masa kini yang didalamnya wujud satu pengaruh yang kuat iaitu globalisasi yang sering dikaitkan dengan Barat dan dikatakan telah mendominasi dunia dari semua aspek iaitu ekonomi, politik, sosial dan teknologi. Ada juga pendapat yang menyatakan bahawa globalisasi ini mempunyai kebaikan dan keburukannya. Globalisasi dijadikan satu konsep penting yang dapat membantu kita memahami transformasi masyarakat dunia dengan menarik perhatian kita kepada perubahan asas yang sedang berlaku dalam era Perang Dingin (Ishak Shari 2000)
\ Globalisasi sememangnya diketahui merupakan satu medium atau ruang bagi mewujudkan hubungan antara setiap negara. Ada sesetangah pihak berpendapat bahawa globalisasi ini adalah satu medium atau platform yang digunakan oleh kuasa besar sebagai saluran dalam melebarkan sayap pengaruh mereka. Jika dilihat kebanyakan negara pada masa kini telah dipengaruhi oleh kuasa besar Barat terutamanya Amerika Syarikat tidak kiralah dari aspek ekonomi, politik dan sosial. Seperti yang diperkatakan tadi globalisasi mempunyai kebaikan dan keburukannya. Malahan di dalam makalah ini jua ada terselit serba sedikit mengenai keburukan dan kebaikan globalisasi. Globalisasi dikatakan telah muncul pada akhir abad ke 1989 yang mana pada ketika itu berlakunya satu peristiwa yang memberi impak kepada dunia iaitu robohnya Tembok Berlin yang selama ini menjadi lambang kekuatan regim Soviet pada ketika. Selepas berlakunya peristiwa besar itu dunia telah mula dipengaruhi oleh arus globalisasi yang didalamnya terdapat satu kuasa unipolar yang besar iaitu Amerika Syarikat.
Secara kronologinya bahagian pertama makalah ini akan menerangkan tentang maksud globalisasi melalui beberapa pentakrifan yang diberikan secara akademik. Bahagian ini penting bagi menerangkan tentang apa itu sebenarnya globalisasi sebelum pergi jauh kepada perbincangan utama bagi makalah ini iaitu tentang dua proses dalam globalisasi yang saling berkontradiksi. Perbincangan seterusnya akan diteruskan dengan menerangkan tentang beberapa aliran atau pendekatan teoritis yang terdapat dalam globalisasi. Tiga pendekatan utama iaitu juggernout, skeptik dan transformasionalis. Kemudiannya barulah dibincangkan tentang dua proses yang saling berkontradiksi yang menjadi subjek utama dalam makalah ini.
Pengakhiran makalah ini akan diakhiri dengan bahagian kesimpulan bagi menyatakan sama ada benarkah globalisasi itu merupakan dua proses yang saling berkontradiksi. Persoalannya di sini benarkah globalisasi itu merupakan dua proses yang saling berkontradiksi? Secara ringkasnya makalah ini akan membincangkan kesahihannya berdasarkan hujah-hujah daripada sarjana-sarjana yang mengkaji globalisasi ini yang dikatakan telah menjadi satu pengaruh besar dan kuat yang sedang menguasai dunia pada masa kini.
DEFINISI GLOBALISASI
Pelbagai pentakrifan diberikan bagi menerangkan definisi globalisasi. Bagi memahami apa itu globalisasi haruslah diketahui dahulu maksud atau definisi globalisasi. Berdasarkan Kamus Dewan globalisasi ditakrifkan sebagai fenomena yang menjadikan dunia mengecil dari segi perhubungan manusia yang disebabkan oleh kepantasan atau lajunya perkembangan teknologi maklumat. Menurut Robertson (1992) pula mendefinisikan globalisasi sebagai satu fenomena multidimensi yang meliputi aspek-aspek ekonomi, politik, ideologi dan budaya.
Manakala bagi seorang sarjana yang mengkaji globalisasi ini sejak mula kewujudannya iaitu Anthony Giddens (1989) pula mentakrifkan bahawa globalisasi ini merupakan satu hubungan sosial serata dunia secara intensif yang mana tindakan pihak tempatan ditentukan oleh peristiwa yang berlaku berbatu-batu jauhnya dan juga perkara di sebaliknya. Ada juga sarjana yang memberi pentakrifan berbeza mengenai globalisasi. Misalnya, Ishak Shari (2000)[1] memberi penakrifan bahawa globalisasi ini merupakan satu konsep yang bersifat pelbagai atau plural kerana globalisasi mempunyai dimensinya yang tersendiri dimana ianya merangkumi aspek-aspek ekonomi, politik, budaya, sosial dan ideologi.
Dalam satu pertubuhan iaitu United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) pula mentakrifkan bahawa globalisasi merupakan satu keadaan dimana perusahaan-perusahaan dan institusi kewangan beroperasi secara transnational yang mana barang-barang faktor pengeluaran dan aset kewangan suatu negara dapat diperdagangkan dengan sempurna diseluruh dunia sehingga kita tidak mungkin lagi melihat negara sebagai satu entiti ekonomi yang berbeza dalam menetapkan dasar ekonomi negara secara otonomi dalam mewujudkan matlamat negara masing-masing.
Manakala bagi Hurrel & Woods (1995) memberi definisi bahawa globalisasi ialah satu proses peningkatan saling kebergantungan dan jaringan sosial yang berlaku akibat daripada wang, manusia, imej, nilai idea yang bergerak dengan begitu cepat dan lancar melangkaui sempadan negara. Friedman (1999) mentakrifkan globalisasi sebagai satu sistem dinamik yang berterusan iaitu terdapatnya integrasi pasaran, negara bangsa dan teknologi yang tidak dapat disekat hingga ke tahap tidak pernah dilihat sebelum ini melaluinya orang perseorangan, syarikat dan negara bangsa dapat berhubung ke serata dunia dengan lebih cepat, lebih jauh, lebih mendalam, dan lebih murah. Apa yang dapat disimpulkan di sini globalisasi merupakan satu konsep pengurangan kedaulatan negara, keterobosan sempadan, kecanggihan teknologi dan perkembangan transaksi perdagangan.
PENDEKATAN TEORITIS ATAU ALIRAN DALAM GLOBALISASI
Sememangnya diketahui di dalam sesebuah konsep itu pasti ada pendekatan-pendekatan teoritis yang wujud bagi mengkaji globalisasi ini. Terdapat tiga aliran atau pendekatan teoritis yang berpengaruh dan popular dalam menghujahkan konsep globalisasi ini. Tiga pendekatan teoritis utama ini ialah pendekatan juggernout atau tesis aliran hyperglobalis, pendekatan skeptik atau tesis aliran skeptik dan ketiga ialah pendekatan transformasionalis atau tesis aliran transformasionalis[2]. Bagi ketiga-tiga pendekatan ini masing-masing mempunyai hujahnya yang tersendiri dalam menerangkan peranan globalisasi yang sememangnya berpengaruh dan menguasai dunia termasuklah aspek-aspek seperti ekonomi, politik dan sosial serta tidak ketinggalan dari segi kemajuan teknologi juga.
Pendekatan Juggernout atau Tesis Aliran Hyperglobal
Pendekatan juggernout atau aliran hyperglobal ini juga dikenali sebagai tesis ’keras’ dimana aliran atau pendekatan ini menganjurkan dan mengagungkan keunggulan sistem pasran bebas. Menurut pelopor aliran ini, telah muncul satu ekonomi dunia yang benar-benar global bagi menguasai dunia dan disebabkan itu mereka menganggap bahawa ekonomi nasional dan strategi domestik dalam pengurusan ekonomi nasional tidak lagi penting. Ekonomi global pada masa kini telah didominasi oleh kuasa pasaran yang tidak dapat dan tidak perlu dikawal. Mereka juga menyatakan bahawa dalam ekonomi global faktor utama dan ejen perubahan paling penting ialah syarikat transnasional atau transnasional corporation yang mana telah diketahui hanya bermotifkan untung dan modal bukannya kepada bertujuan untung menguntungkan negara.
Syarikat-syarikat ini telah menempatkan operasinya di mana jua di dunia yang mereka anggap boleh memberikannya keuntungan dan kelebihan dalam persaingan pasaran dan mereka akan memindahkan ke lokasi lain sekiranya pertimbangan mengenai keuntungan yang akan diperolehi yang akan menyebabkan mereka memindahkan syarikat ke tempat lain. Bagi golongan aliran hyperglobalis ini globalisasi merupakan sesuatu yang tidak dapat dielakkan dan oleh kerana dunia telah menjadi dunia tanpa sempadan negara bangsa tidak mempunyai fungsi dan sudah ketinggalan zaman. Mereka menghujahkan bahawa pada penghujung abad ke-20 dan abad ke-21 bukan lagi era bangsa-bangsa tetapi era region-state dan menganjurkan bahawa satu-satunya cara atau metod bagi negara mundur untuk mengatasi masalah mereka ialah dengan menyertai secara lebih mendalam dalam arus globalisasi. Ini akan menjsdikan mereka lebih terintegrasi dalam ekonomi global dan meningkatkan daya saing antarabangsa dan sebagainya.
Pendekatan Skeptik dan Tesis Aliran Skeptik
Tesis atau aliran ini juga dikenali sebagai pendekatan yang menolak globalisasi lebih-lebih lagi pandangan ’keras’ yang secara ekstrim menghujahkan bahawa globalisasi sesuatu yang tidak terelakkan dan harus menerima seperti sedia ada. Golongan skeptis menganggap globalisasi hanya satu mitos, tetapi satu mitos yang perlu. Mereka menegaskan bahawa apa yang terdapat di dunia hari ini bukannya globalisasi tetapi pengantarabangsaan (internationalisation) dan pelbagai negara lagi di dunia tetap beroperasi sebagai satu sistem negara yang menggerakkan hubungan antara negara atau antarabangsaan.
Golongan skeptis menganggap apa yang berlaku ialah proses pengantarabangsaan bukannya globalisasi yang hanya perlu satu mitos. Walaubagaimanapun mereka mengakui globalisasi merupakan satu bentuk mitos yang perlu keran ianya digunakan untuk menyakinkan pelbagai negara dan pihak lain di dunia supaya menerima globalisasi sebagai sesuatu yang tidak terelakkan.
Pendekatan Transformasionalis atau Tesis Aliran Transformasionalis
Tesis lembut ini atau pendekatan aliran transformationalis iaitu aliran pemikiran teoritis yang menganggap bahawa globalisasi sebagai satu proses yang benar-benar berlaku dan menjadi kenyataan serta mencirikan dunia dewasa ini. Keadaan ini dimungkinkan oleh pemampatan masa dan ruang dalam hubungan sosial yang kepesatan dan kedalamannya belum pernah terjadi dalam sejarah. Di samping itu, terdapat pula kesedaran global mengenai pemampatan tersebut. Golongan ini berpendirian bahawa globalisasi ialah satu frasa baru dalam sejarah modal yang rangkaiannya membawa pelbagai masyarakat yang berbeza di dunia ke dalam satu sistem yang sama. Tesis ini menganggap memang benar terdapat pemindahan modal, buruh, maklumat dan pengetahuan di peringkat global yang mendorong arus kuat integrasi aktiviti ekonomi secara sejagat.. Apa yang sebenarnya berlaku bukanlah semata-mata pengantarabangsaan seperti yang dihujahkan oleh tesis skeptis tetapi pengglobalan.
Aliran ini juga berpendapat bahawa globalisasi bukan semata-mata melibatkan pergerakan modal dan kewangan tetapi juga melibatkan integrasi politik dan sosial yang berasaskan pergerakan kuasa pasaran. Fenomena ini dimungkinkan oleh kemunculan begitu banyak syarikat TNC atau syarikat transnasional yang besar. Aliran transformasionalis ini mengakui bahawa globalisasi sememangnya berlaku dan negara bangsa sebagai unit politik semakin dipinggirkan. Oleh yang demikian aliran ini menganggap globalisasi bukan satu proses yang melahirkan penyeragaman sepenuhnya kerana terdapat perlawanan oleh negara dan juga oleh aktor bukan negara di peringkat dalam negeri dan juga antarabangsa terhadap proses tersebut.
GLOBALISASI SEBAGAI DUA PROSES YANG SALING BERKONTRADIKSI
Globalisasi sememangnya merupakan satu konsep yang dunia pada hari bergantung kepadanya. Globalisasi di dalamnya terdapat dua proses yang dikatakan saling berkontradiksi dan mempunyai prosesnya yang tersendiri. Dua proses tersebut ialah penyamarataan dan pembezaan identiti atau diferensisasi. Penyamarataan ialah satu proses dimana globalisasi menghasilkan satu dunia yang semakin seragam atau sama rata dari segi ekonomi, politik, sosial dan budaya serta teknologi. Manakala pembezaan identiti atau diferensisasi merupakan satu proses yang melawan atau mengadaptasi dengan proses penyeragaman atau penghomogenan yang dilakukan oleh proses penyeragaman. Oleh hal yang demikian, kedua-dua proses ini dikatakan saling berkontradiksi atau berlawanan antara satu sama lain serta dua proses ini tidak dapt dielakkan.
PENYAMARATAAN ATAU PENYERAGAMAN
Proses penyamarataan seperti yang diperjelaskan tadi merupakan satu proses dalam globalisasi yang menghasilkan satu dunia yang semakin seragam atau sama rata dari segi ekonomi, politik, sosial dan budaya serta teknologi. Proses penyeragaman ini penting bagi merealisasikan matlamat yang ditetapkan oleh pihak yang cuba menyebarkan pengaruh globalisasi ini.
Penyeragaman atau penyamarataan dalam ekonomi
’The world is becoming a global shopping mall in which ideas and products are avalaible everywhere at the same time’-
(Rosabeth Moss Kanter 1995)
Kata-kata diatas menerangkan bahawa dunia pada masa kini sememangnya telah menuju untuk menjadi sebuah gedung di mana gedung ini menghasilkan idea dan produktiviti dan mampu diperolehi di semua tempat. Ini dikaitkan dengan situasi pada masa kini yang mana dunia pada masa kini bergantung kepada arus globalisasi yang menyediakan pelbagai keperluan bagi penduduk dunia. Hal ini demikian kerana terdapat usaha untuk membuka seluas-luasnya pasaran kewangan dan pelaburan serta meruntuhkan pelbagai tembok yang dianggap penghalang kepada liberalisasi kewangan, pasaran bebas didukung supaya ia berkembang tanpa sekatan dan ini dikatakn cekap, rasional dan berautonomi.
Proses penyamarataan ini berlaku melalui peranan organisasi antarabangsa misalnya WTO (World Trade Organization)[3], IMF (International Monetary Fund)[4] dan AFTA (Asean Free Trade Areas)[5] di mana negara-negara yang terlibat perlu melakukan perjanjian yang ditandatangani beberapa buah negara dalam perdagangan. Perjanjian ini akan membentuk satu dasar di mana setiap negara yang menandatangani perjanjian akan disamaratakan cukai dan tarif negara yang terlibat dalam perjanjian. Pihak kapitalis Barat dilihat sebagai pendominasi perdagangan dan kewangan antarabangsa yang lebih cenderung ke arah kekayaan secara individu dan mengidamkan gaya hidup yang mewah. Dalam proses penyamarataan ini, proses ini mewujudkan keadaan ekonomi yang terbuka dan saling kebergantungan (interdependence) antara negara wujud melalui perdagangan bebas, pelaburan asing secara langsung dan pelaburan portfolio.
Penyeragaman atau penyamarataan dalam politik
Dalam proses penyeragaman atau penyamarataan ini terdapat cubaan untuk menyeragamkan bentuk pemerintahan di seluruh dunia. Sememangnya globalisasi menyalurkan sebuah idea mengenai demokrasi dan hak asasi manusia yang dianggap prinsip sejagat yang mesti diterima oleh masyarakat dunia yang diterajui oleh Amerika Syarikat sebagai sebuah kuasa dunia yang terkuat di dunia (Abdul Rahman Embong 2000). Amerika Syarikat menjadikan globalisasi itu sebagi satu medium untuk menyalurkan idea demokrasi dan kesan daripada itu wujudlah satu istilah yang digelar ’Americanization’.
Proses penyamarataan dalam politik wujud dalam bentuk kerjasama. Kerjasama dalam proses penyamarataan atau penyeragaman wujud bagi menyelesaikan masalah yang berlaku dalam dunia hari ini. Melalui globalisasi, masalah dikatakan bukan lagi pada sesebuah pihak atau satu negara tetapi keputusan bagi menyelesaikan masalah dilakukan secara bersama dan melibatkan satu dunia. Kerjasama ini wujud apabila berlakunya beberapa krisis atau masalah dalam dunia. Antaranya ialah masalah berkenaan alam sekitar, keselamatan negara dan lain-lain lagi. Secara ringkasnya proses penyamarataan dalam politik merupakan analisis berteraskan negara mengenai integrasi masyarakat dunia ke dalam satu sistem ekonomi dan politik global yang diketuai oleh satu kuasa utama. Misalnya dunia pada masa kini yang diketuai oleh satu kuasa unipolar iaitu Amerika Syarikat seperti yang telah dijelaskan tadi.
Penyeragaman dan penyamarataan dalam sosial atau budaya
Dari segi penyamarataan dalam budaya pula, terdapat penyebaran budaya konsumer Amerika Syarikat ke seluruh dunia melalui makanan, pakaian dan budaya seperti Mcdonald, Pizza, Coca Cola, Pepsi dan lain-lain. Selain itu terdapat juga trend dimana dunia dipengaruhi oleh fesyen ala kebaratan dan menjadi ikutan pada hari ini. Pengaruh budaya ini dilihat juga disebabkan oleh pihak kapitalis Barat kerana perubahan dunia kini dilihat ke arah pembaratan atau istilah yang sering digunakan dan telah dinyatakan sebelum ini iaitu proses ’Americanization’. Pengaruh globalisasi juga menyebabkan tersebarnya penyeragaman yang membentuk satu budaya baru yang digelar budaya kosmopolitan iaitu dimana masyarakat yang hidup dalam budaya kosmoplitan masih mengamalkan budaya atau cara hidup tempatan tetapi pemikiran mereka lebih terarah kepada global yang mana mereka lebih bersifat terbuka dan memikirkan kebajikan mereka sahaja. Proses sosio-budaya yang berteraskan kepada konsep ’satu dunia’ menyebabkan berlakunya pergerakan globalist warganegara dunia.
Makalah ini mengambil contoh dimana dalam penyebaran budaya konsumer Amerika Syarikat berlakunya satu proses yang dipanggil Mcdonaldisation of Society (Abdul Rahman Embong 2000). Hal ini demikian kerana Mcdonald dikatakan smenjadi lambang bagi memaksudkan keseluruhan budaya konsumer tersebut. Istilah digunakan bagi merujuk kepada proses penyebaran budaya konsumer oleh syarikat-syarikat transnasional dunia. Perluasan pasaran ekonomi bebas yang ditunjangi oleh TNC dan juga sistem politik demokrasi liberal ala-Barat tidak lengkap sekiranya ia dibatasi kepada bidang ekonomi dan politik sahaja. Oleh itu, penyebaran bagi membentuk penyeragaman harus diperluaskan kepada kehidupan dan pemikiran supaya sistem ekonomi dan politik tersebut menjadi satu norma yang diterima tanpa soal. Bagi menzahirkan matlamat itu, budaya konsumer ini harus diperluaskan sebaik mungkin supaya ianya akan melahirkan penyeragaman budaya khususnya dari segi gaya hidup. Proses penyeragaman ini jika dilihat pada masa kini hampir berlaku di seluruh dunia walaupun masih ada segelintir pihak yang tidak dapat menerima dengan baik hasil daripada proses penyeragaman dalam globalisasi ini.
Penyeragaman atau penyamarataan dalam teknologi
Teknologi sememangya diketahui merupakan salah satu faktor utama yang menjadi antara pendorong kepada berlakunya proses dalam globalisasi. Perkembangan teknologi maklumat dan komunikasi menggalakkan rangkaian global dalam sesebuah negara dengan negara yang lain. Penggunaan media telekomunikasi seperti internet dan televisyen dikatakan menjadi platform penting bagi melancarkan proses penyamarataan berlaku. Kesan daripada itu wujudlah satu konsep yang dikenali sebagai proglobalis iaitu satu konsep yang menjadi medium bagi menyebarkan budaya sehingga ada pihak yang menyatakan wujudnya perkampungan global. Marshall Mcluhan (1960 an) ada memberi definisi tentang perkampungan global iaitu:
’ transendence of contraints of phisycal place enabled by new communications technologies that
allow instant, inexpensive global communication’
(Marshall Mcluhan 1960-an)
Kata-kata ini menjelaskan mengenai perkampungan global iaitu satu proses transendesi terhadap keadaan fizikal sesebuah tempat yang mampu diubah melalui teknologi komunikasi dan membenarkan proses penyeragaman berlaku dengan lebih cepat dan murah untuk menghasilkan komunikasi global yang baik. Hal ini demikian kerana dunia hari ini menjadikan internet sebagai satu ruang umum kepada masyarakat awam untuk membahaskan isu-isu dunia dengan bebas tanpa kawalan kerajaan dan institusi yanbg lain melalui email dan laman interaktif seperti Myspace, Friendster, blogs, Facebook dan lain-lain. Kemajuan dan penyamarataan dalam teknologi ini dikatakan menjadi salah satu asas kepada demokrasi kerana wujudnya keterbukaan untuk masyarakat membahaskan mengenai isu-isu semasa yang berkaitan dengan kebajikan mereka dan mereka. Media-media interaktif seperti ini dijadikan sebagai satu medium untuk mereka menyuarakan pendapat mereka mengenai dasar-dasar yang telah dilakukan oleh kerajaan. Friedman (1999) berpendapat bahawa proses penyeragaman dalam teknologi ini berlaku apabila berlakunya perubahan dalam metod berkomunikasi antara satu sama lain iatu apabila berlakunya penciptaan telefon dalam kereta lalu beliau membentuk satu konsep kesan daripada proses penyeragaman atau penyamarataan iaitu pendemokrasian dalam teknologi or democracy in technology[6].
PEMBEZAAN IDENTITI ATAU DEFERENSISASI
Sememangnya diketahui bahawa pembezaan identiti merupakan salah satu daripada proses yang terdapat dalam globalisasi selain daripada proses penyeragaman. Proses pmbezaan identiti secara konseptualnya merupakan satu proses yang berlawanan atau mengadaptasi dengan proses penyeragaman atau penghomogenan. Proses ini dikatakan saling berkontradiksi dengan proses penyeragaman yang mana proses pembezaan ini juga wujud dalam pelbagai aspek iaitu aspek ekonomi, politik, sosial atau budaya dan teknologi. Pembezaan ini dikatakan wujud kesan daripada proses penyeragaman itu tadi yang berkontradiksi antara satu sama lain.
Pembezaan identiti atau deferensisasi dalam ekonomi
Dalam aspek ekonomi pula wujud usaha untuk memperkembangkan dan memperluaskan pasaran kewangan dan pelaburan serta berusaha untuk pelbagai tembok yang menjadi penghalang dalam usaha melebarkan dakyah proses penyeragaman dalam globalisasi. Sememangya diketahui pengaruh globalisasi menganjurkan sitem ekonomi kapitalis lanjutan daripada ideologi liberal yang mendukung pasaran bebas sebagai satu pasaran yang dianggap cekap, rasional dan mempunyai autonominya teresendiri. Pihak-pihak yang memperjuangkan ideologi liberalisme sebagai satu ideologi yang utuh telah berusaha sedaya upaya supaya sistem ekonomi kapitalis menjadi sebuah sistem ekonomi yang digunapakai di seluruh dunia. Hal ini terbukti pada masa kini dunia menganjurkan sistem ekonomi kapitalis atau pasaran bebas (free trade) sebagai sistem ekonomi global.
Namun disebalik usaha untuk meluaskan pasaran bebas itu ke serata dunia terdapat pula usaha untuk mendirikan tembok bagi mejaga kepentingan ekonomi domestik dan bertentangan dengan proses penyeragaman itu tadi. Dalam arus globalisasi kesan akibat daripada proses penyeragaman menyebabkan wujudnya proses pembezaan identiti atau deferensisasi dimana terdapatnya jurang ekonomi yang besar antara negara kaya (negara yang mengamalkan sistem ekonomi kapitalis) dengan negara miskin yang rata-rata penduduknya memiliki pendapatan perkapita yang rendah. Negara yang miskin atau negara sedang membangun terpaksa menggubal undang-undang atau dasar-dasar yang memihak kepada negara kaya yang bersetentang dengan dasar-dasar ekonomi yang ditetapkan oleh pihak mereka sendiri. Hal ini demikian kerana peraturan atau dasar global ini dilihat mengenepikan masyarakat di negara-negara miskin. Mengapa pembezaan identiti atau deferensisasi dalam ekonomi ini berlaku? Hal ini disebabkan oleh kemasukan syarikat multinasional atau multinasional corporation (MNC) ke negara-negara miskin untuk menjalankan operasinya yang menyebabkan sesebuah negara yang MNC melakukan pelaburan modal terpaksa membentuk satu polisi baru yang dikehendaki oleh pihak MNC yang sememangnya diketahui mempunyai matlamat untuk menghasilkan untung yang maksimum (maximum of profit). Melalui cubaan mereka untuk merealisasikan matlamat mereka telah mengambil pendekatan yang dikatakan menindas golongan pekerja bawahan iaitu mengurangkan kos pengeluaran dengan mengurangkan gaji pekerja. Kesannya dapat dilihat berlakunya proses pembezaan dimana wujud ketidakseimbangan dalam jurang pendapatan rakyat di negara tersebut dan negara kaya terus kaya manakala negara miskin terus miskin bertentangan dengan matlamat asal untuk memajukan ekonomi sesebuah negara. Ini yang diperjuangkan oleh sessetengah kumpulan yang menentang penyebaran pengaruh globalisasi ke seluruh dunia yang menyebabkan jurang pendapatan antara golongan kaya dengan miskin menjadi lebih besar.
Pembezaan identiti atau deferensisasi dalam politik
Proses pembezaan identiti wujud dan berkontradiksi dengan proses penyeragaman atau penyamarataan melalui idea demokrasi yang dicanangkan oleh kuasa besar dunia pada masa kini iaitu Amerika Syarikat. Idea atau sistem pemerintahan yang berbentuk demokrasi ini telah mencetuskan perlawanan dan pembezaan di setiap atau pelbagai pelosok dunia. Hal ini demikian kerana terdapat negara-negara yang cuba mentakrif semula idea demokrasi dan hak asasi manusia supaya mengikut tempat atau negara masing-masing. Misalnya nilai Asia, demokrasi ala Malaysia dan hak komuniti atau masyarakat mengatasi individu diketengahkan dengan alasan kita sepatutnya melakukan perubahan ini mengikut acuan sendiri dan tidak sepatutnya dilakukan mengikut acuan Barat.
Proses pembezaan dalam globalisasi yang kontra dengan proses penyeragaman ini tidak berhenti setakat itu. Bahkan melalui proses pembezaan ini juga menyebabkan wujud gerakan masyarakat sivil yang mendesak pembentukan dan perluasan demokrasi dari bawah iaitu dari dari golongan bawahan dan golongan kelas menengah. Gerakan masyarakat sivil ini berpendirian kritis terhadap idea demokrasi dan hak asasi manusia sejagat yang dipropagandakan oleh kuasa besar Barat. Selain itu juga, gerakan masyarakat sivil ini juga mempunyai matlamat untuk mendedahkan sikap dan amalan double standard kuasa-kuasa tersebut terutamanya Amerika Syarikat mengenai idea demokrasi dan hak asasi manusia yang diketengahkan oleh mereka. Tetapi gerakan-gerakan sivil ini juga berhati-hati dan mempunyai pandangan kritis terhadap agenda politik negara bukan Barat yang menjadikan hujah ’mengikut cara tersendiri’ sebagai alasan untuk melaksanakan bentuk pemerintahan autoritarianisme dalam negeri yang mengekang perkembangan masyarakat sivil dan kebebasan yang sepatutnya dinikmati oleh warganegaranya. Gerakan masyarakat sivil yang wujud akibat daripada globalisasi melalui proses pembezaan ini juga menyatakan pandangan mereka bahawa globalisasi telah menyebabkan berlakunya pertambahan dalam migrasi buruh ke negara sedang membangun danmaju akibat daripada pelaburan yang dilakukan oleh syarikat multinasional atau multinasional corporation(MNC) dan syarikat transnasioanl atau transnasional corporation (TNC) melalui operasi mereka di negara-negara yang dipilih.
Pembezaan identiti atau deferensisasi dalam sosial atau budaya
Dalam globalisasi juga terdapat proses pembezaan dalam sosial yang melibatkan budaya, agama dan peradaban. Penyebaran budaya konsumer yang rata-ratanya mempengaruhi dunia dengan proses Mcdonaldisation of society yang menjadi taruhan dalam usaha untuk mempengaruhi kehidupan dan pemikiran telah mencetuskan pembezaan dan bahkan perlwanan terhadap proses penyeragaman sosial. Proses pembezaan yang terdapat dalam globalisasi ini mengambil bentuk usaha menegaskan semula budaya dan identiti sendiri iaitu dengan menggali budaya transnasional dan juga merekacipta tradisi. Proses pembezaan ini juga telah melahirkan satu gerakan revivalisme udaya dalam pelbagai ragam dan bentuk di kebanyakan negara di dunia. Gerakan revivalisme ini menentang penyebaran budaya konsumerisme yang dikatakan telah mencacatkan budaya di sestengah tempat atau negara. Hal ini demikian kerana golongan revival ini mempunyai matlamat untuk mengekalkan budaya di tempat masing-masing melalui penentangan keras terhadap budaya konsumerisme yang disebarkan melalui globalisasi.
Proses pembezaan tidak terhenti setakat itu sahaja bahkan dari aspek keagamaan dan peradaban juga wujud usaha untuk memperkembangkan nilai-nilai agama. Usaha untuk memperkembangkan nilai-nilai kebangkitan agama ini diwujudkan melalui gerakan ’pemurnian’ hidup bagi mengelak daripada pengaruh sekularisme yang sememangnya sinonim dengan Barat. Misalnya wujud gerakan Islam di seluruh dunia yang menganjurkan Islam sebagai addin atau cara hidup bukannya sebagai satu kepercayaan semata-mata. Ini penting bagi mengekang kemaraan pengaruh sekularisme yang menjadikan globalisasi sebagai platform atau medium untuk menyebarkan fahaman mereka daripada terus cuba untuk mempengaruhi pemikiran umat Islam.
Pembezaan identiti atau deferensisasi dalam teknologi
Proses pembezaan identiti atau deferensisasi dalam teknologi berlaku dan berlawanan dengan proses penyeragaman. Hal ini demikian kerana dalam perkongsian teknologi terutamanya dalam perkongsian teknologi maklumat dan komunikasi memudahkan lagi perhubungan antara sesebuah negara dengan negara yang lain. Proses pembezaan ini berlaku apabila matlamat untuk berlakunya perkongsian teknologi ini tidak tercapai. Hal ini demikian wujud pihak yang cuba untuk memprovokasi pihak lain supaya pihak yang memiliki keupayaan teknologi tersebut tidak tergugat dalam kemajuan teknologi. Misalnya jika dilihat dunia pada hari ini wujud kawalan teknologi ke atas sesebuah negara seperti China. Seperti yang diketahui China merupakan salah satu daripada kuasa besar di dunia yang pengaruhnya semakin utuh. Kapitalis Barat iaitu terutamanya pihak Amerika Syarikat dikatakan tidak mahu menjual teknologi kepada China dan dengan itu China telah mengambil inisiatif sendiri untuk menghasilkan teknologi. Hal ini menunjukkan proses pembezaan identiti berlaku apabila adanya teknologi lain selain daripada teknologi yang disalurkan oleh Barat. Ini menyebabkan wujud proses pembezaan identiti dalam teknologi. Amerika Syarikat mengetahui bahawa China mempunyai struktur ekonomi yang kukuh tidak mustahil China mampu untuk maju dalam teknologi. Amerika Syarikat sememangnya akan cuba sedaya upaya untuk menyekat kemaraan China dan ini menyebabkan deferensisasi itu berlaku dalam kemajuan teknologi.
KESAN GLOBALISASI
Globalisasi sememangnya diketahui mempunyai kesannya sama ada baik atau buruk. Kesan globalisasi ini akan diterangkan secata umum melibatkan kebaikan dan keburukan globalisasi terhadap aspek ekonomi, politik dan sosial. Secara umumnya dapat dilihat kesan globalisasi terhadap aspek-aspek ini.
Ekonomi
Kesan globalisasi terhadap aspek ekonomi dapat dilihat apabila globalisasi menyumbang kepada perkembangan ekonomi melalui sistem ekonomi yang berdasarkan kepada pasaran bebas atau free trade. Selain itu, proses globalisasi juga menyumbang kepada penggunaan teknologi baru dalam pengeluaran khususnya dalam sektor perindustrian dan mewujudkan persaingan antara pengusaha-pengusaha tempatan dengan pelabur asing. Walaupun pada asalnya globalisasi mewujudkan persaingan antara pengusaha tempatan dengan pelabur asing tetapi sebaliknya berlaku apabila wujud pendominasian daripada pelabur modal asing. Hal ini demikian kerana keupayaan bagi pemodal tempatan untuk melabur adalah rendah berbanding pelabur modal asing. Manakala sistem ekonomi yang berdasarka pasaran bebas ini memberi kesan yang sebaliknya apabila negara kaya mengeksploitasi negara miskin bagi memperoleh untung yang maksimum.
Politik
Kesan globalisasi terhadap aspek politik pula dapat dilihat apabila kerajaan melakukan perubahan dan menggubal dasar-dasar yang bersesuaian dengan perdagangan antarabangsa untuk memperoleh faedah daripada aktiviti perdagangan antarabangsa yang dilakukan dengan negara lain. Tetapi dalam masa yang sama kesan daripada globalisasi juga menyebabkan kerajaan terpaksa menggunakan kos yang banyak dalam menangani masalah migrasi yang datang ke negara secara haram untuk memperoleh pekerjaan serta kerajaan juga perlu menyediakan dana bagi menyelesaikan kes-kes yang berkaitan dengan isu sosial yang mampu menggugat ketenteraman awam. Kesan globalisasi yang baik juga dapat dilihat apabila wujud hubungan diplomatik antara negara dalam menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kawasan serantau atau lain-lain.
Sosial
Melalui aspek sosial pula dapat dilihat bahwa globalisasi memberi kesan apabila globalisasi membawa pengaruh budaya Barat yang menyebabkan berlakunya pencampuran budaya di mana budaya Barat ini sememangnya bertentangan dengan budaya asli sesebuah negara atau tempat. Selain itu, kesan globalisasi terhadap aspek sosial ialah berlakunya peningkatan migrasi pekerja dari luar iaitu migrasi pekerja asing ke negara-negara membangun di dunia termasuklah Malaysia.Kesan daripada berlakunya proses migrasi itu menyebabkan berlakunya penularan wabak-wabak penyakit khususnya wabak penyakit pandemik yang mampu mengancam keselamatan penduduk di sesbuah tempat atau negara.
KESIMPULAN
Secara ringkasnya jelaslah bahawa globalisasi ialah dua proses yang saling berkontradiksi. Berdasarkan perbincangan dalam makalah ini dua proses globalisasi yang saling berkontradiksi tersebut ialah proses penyeragaman atau penyamarataan dan proses pembezaan identiti. Melalui kedua-dua proses ini dapat ditunjukkan dengan jelas bagaimana berlakunya usaha menyebarkan pengaruh globalisasi ke serata dunia dengan ada pihak yang menyatakan globalisasi cuma dijadikan sebagai medium atau ruang bagi kuasa-kuasa besar Barat melebarkan sayap pengaruhnya ke seluruh dunia terutamanya negara-negara Asia Timur. Sememangnya globalisasi merupakan satu proses berbentuk sejagat. Oleh itu, usaha penting harus dilakukan bagi meneliti peranan globalisasi sebenarnya dengan kritis dan memberi input daripada perspektif yang sesuai dalam membincangkan apa itu globalisasi. Akhir sekali, sememangnya globalisasi merupakan dua proses yang saling bertentangan dan berkontradiksi kerana terdapatnya proses yang menyamaratakan masyarakat global dan juga membezakan masyarakat.
